Tangis pilu pecah di Dusun Pucanganom, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Selasa (28/4/2026) sore. Sebuah mobil ambulans yang memasuki halaman rumah membawa duka mendalam bagi keluarga dan tetangga yang telah menanti sejak siang.

Jenazah Ristuti Kustirahayu, 37 tahun, perantau asal Wonogiri, tiba untuk dimakamkan di desa asalnya. Ristuti menjadi salah satu korban tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.

Sugeng Supriyanto, ayah korban, mengungkapkan bahwa pertemuan terakhirnya dengan sang putri terjadi enam tahun silam. Ristuti memang merantau di Jakarta, bekerja di bagian keuangan sebuah toko bangunan.

“Sebenarnya lebaran yang baru saja berlalu, Ristuti berkeinginan pulang. Namun menjadi batal, karena bersamaan dengan mertuanya yang tinggal di Purwokerto meninggal,” ungkap Sugeng, yang beberapa tahun terakhir pindah mukim di Blora.

Duka Sugeng tak terbendung. Ia terakhir kali berkomunikasi dengan anaknya pada Minggu (26/4), hanya dua hari sebelum kabar memilukan itu datang. “Baru dua hari lalu, dan tidak ada firasat apapun. Tahu tahu semalam terima kabar memilukan ini. Saya langsung pulang ke Pucanganom Manyaran,” imbuhnya dengan sesengukan.

Setibanya di rumah duka, jenazah Ristuti langsung dimandikan dan disalatkan. Prosesi pemakaman kemudian dilanjutkan di TPU Desa Bero, diantar oleh keluarga dan tetangga yang turut berduka.

Kepala Dusun Pucanganom, Ngatimin, menjelaskan bahwa warga dusun segera melakukan persiapan “bedah bumi” atau persiapan pemakaman setelah menerima kabar duka. “Kabar duka itu dari keluarganya, dari pakdhe korban. Warga langsung membantu persiapan bedah bumi untuk pemakaman sore ini,” pungkas Ngatimin.