Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 8,32 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan I 2026. Angka pertumbuhan ini menempatkan Sulteng di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen, meskipun sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya.
Kepala BPS Sulteng, Daryanto, dalam rilis resmi di Palu pada Selasa (5/5/2026), menjelaskan detail capaian tersebut. “Nilai perekonomian Sulteng berdasarkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) triwulan I tahun 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp110.267,82 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp57.438,68 miliar,” ujarnya.
Sektor Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama
Daryanto memaparkan, tiga lapangan usaha memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Sulteng. Industri pengolahan memimpin dengan 43,43 persen, diikuti pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 16,19 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 14,17 persen. “Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 73,79 persen terhadap perekonomian Sulawesi Tengah,” tambahnya.
Dari sisi produksi, industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,09 persen, sejalan dengan peningkatan produksi komoditas logam dasar. Sektor ini menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan sumbangan 5,94 persen pada triwulan I 2026 secara tahunan. Pertambangan dan penggalian tumbuh 3,42 persen, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 1,92 persen.
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Melonjak
Pada sisi pengeluaran, komponen konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,03 persen. Disusul oleh ekspor barang dan jasa yang tumbuh 11,95 persen, konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 8,01 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,44 persen, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 1,96 persen.
Secara struktur, perekonomian Sulawesi Tengah dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh komponen ekspor barang dan jasa dengan kontribusi sebesar 115,12 persen. PMTB menyumbang 37,72 persen, dan konsumsi rumah tangga sebesar 27,15 persen.
Kontraksi Triwulanan di Beberapa Sektor
Meski pertumbuhan tahunan positif, Daryanto juga menyebutkan adanya kontraksi secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q). Ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan I-2026 mengalami kontraksi sebesar 6,98 persen dibandingkan triwulan IV 2025.
Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 18,85 persen. Kemudian diikuti oleh industri pengolahan sebesar 11,28 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 7,46 persen.
