Sebanyak 6 ton sampah berhasil diangkut dari kawasan Puncak, Bogor, dalam sebuah aksi bersih-bersih yang melibatkan 70 relawan EIGER Adventure Land, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada pertengahan Maret lalu. Kegiatan ini menyoroti urgensi penanganan masalah sampah di wilayah hulu yang berdampak pada ekosistem.
Permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) tahun 2023 menunjukkan, dari 56 juta ton sampah per tahun, hanya 39% yang terkelola baik. Sisanya, 22% ditimbun di TPA dengan metode open dumping, dan 39% terbuang ke lingkungan, termasuk melalui pembakaran atau pembuangan ke badan air.
Di Kabupaten Bogor, volume sampah mencapai ribuan ton per hari, memicu munculnya titik-titik timbulan sampah liar, terutama di kawasan penyangga seperti Puncak. Praktik pembuangan sampah tak terkendali ini menekan ekosistem, mengganggu aliran air, serta meningkatkan risiko banjir dan longsor di lereng.
Aksi bersih-bersih ini berpusat di Desa Sukagalih, Megamendung, tepatnya di Zona Pemanfaatan TNGGP. Pada tahap awal, tim berhasil mengangkat sekitar 6 ton sampah, setara dengan empat truk. Estimasi di lapangan menunjukkan total timbulan sampah di titik tersebut mencapai sekitar 30 ton atau setara 20 truk, sehingga pembersihan akan berlanjut secara bertahap.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen EIGER Adventure Land sebagai destinasi ekowisata. Mereka tidak hanya berfokus pada pengembangan kawasan, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan di area sekitar, termasuk desa penyangga dan kawasan konservasi. Inisiatif ini merefleksikan semangat EIGER dalam menghadirkan pengalaman bermakna, di mana interaksi dengan alam juga mencakup tanggung jawab merawatnya.
Direktur Utama EIGER Adventure Land, Imanuel Wirajaya, menekankan bahwa faktor perilaku menjadi kunci dalam permasalahan sampah di kawasan hulu. “Permasalahan sampah di kawasan seperti Puncak tidak hanya soal volume, tetapi juga perilaku. Pembuangan sampah sembarangan dapat berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar, mulai dari pencemaran hingga potensi bencana,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/4).
Ia menambahkan, “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bersama-sama menjaga kawasan ini tetap bersih. Perubahan perilaku dan wajib pilah sampah dari sumber sangat penting diwujudkan.”
Senada, Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Arief Sabdo Yuwono, yang juga tim pakar untuk EIGER Adventure Land, menyoroti pentingnya pendekatan sistemik. “Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional seperti open dumping. Diperlukan perubahan sistem pengelolaan sampah mulai dari sumbernya, termasuk kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta penguatan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Melihat kompleksitas ini, EIGER Adventure Land berkomitmen mendorong inisiatif pengelolaan sampah di Megamendung secara bertahap dan berkelanjutan. Upaya ini mencakup peran sebagai mitra, fasilitator, serta edukator bagi masyarakat dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Ke depan, komitmen ini diperkuat melalui pengembangan sistem pengelolaan sampah terintegrasi. Sistem ini dirancang untuk mendukung kawasan ekowisata berkelanjutan dan menjadi kontribusi jangka panjang dalam menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah hulu.
