Lebih dari dua bulan berlalu sejak banjir bandang Sumatra menerjang pada 24-27 November 2025, namun akses darat yang vital antara Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, dan Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, masih terputus total. Kondisi ini menyebabkan puluhan ribu warga di kawasan Pining terisolasi, dengan aktivitas perekonomian lumpuh dan pasokan kebutuhan pokok terhambat.

Penelusuran di lapangan pada Sabtu (31/1) menunjukkan, dari total 43 kilometer jalur penghubung Serbajadi-Pining, sekitar 20 kilometer di antaranya mengalami kerusakan parah. Badan jalan dan jembatan hancur lebur, terutama di antara Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, dan Desa Lokop, Kecamatan Serbajadi, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dampak kelumpuhan akses ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Puluhan ton hasil bumi dari Kecamatan Pining, seperti pisang, kemiri, kakao, dan palawija, tidak dapat diangkut untuk dipasarkan ke Aceh Timur maupun daerah lain. Bahkan, hasil panen raya buah durian sebulan terakhir sempat membusuk karena tidak bisa didistribusikan.

Kepala Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Kamaruddin, mengungkapkan bahwa pasokan beras dari Aceh Timur untuk Kecamatan Pining juga terhenti total. “Pihaknya sangat berharap jalur Lokop, Serbajadi-Pasir Putih, Pining segera diperbaiki. Pasalnya wilayah Lokop, Serbajadi dan Pasir Putih, Pining sangat erat kaitannya. Selain kaitan kebutuhan dagang, juga banyak di antara penduduk di perbatasan dua kabupaten yaitu Gayo Lues dan Aceh Timur yang merupakan kerabat,” ujar Kamaruddin.

Selama lebih dari dua bulan, warga Desa Pasir Putih dan sekitarnya terpaksa bergantung pada bantuan bahan pokok dari donatur swasta dan pemerintah. Koordinator Relawan Lintas Komunitas, Hadityo, yang telah sepekan berada di Pining, membenarkan parahnya kerusakan jalan.

“20 km harus jalan kaki karena belum bisa lewat mobil dan motor, serta jalurnya sangat terjal. Kami mendorong pemerintah segera turunkan alat berat,” tutur Hadityo kepada Media Indonesia.

Terdapat informasi yang menyebutkan bahwa alat berat jenis eskavator mulai bergerak menuju lokasi kerusakan pada Minggu (1/2), dengan pengerjaan dari dua arah, yaitu Lokop ke Pining dan sebaliknya. Masyarakat berharap informasi ini benar adanya agar akses jalan dapat segera diperbaiki dan kehidupan kembali normal. (MR/E-4)