TANGERANG – Dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Siloam Hospitals, dr. Dicky Aligheri Wartono, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai nyeri dada yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Gejala tersebut, menurutnya, merupakan salah satu indikasi adanya robekan pada dinding aorta, kondisi yang berpotensi menyebabkan kematian secara cepat jika penanganannya terlambat.

Penyakit aorta, yang melibatkan pembuluh darah arteri utama, dikategorikan sebagai salah satu kondisi kardiovaskular paling berbahaya yang menuntut penanganan medis dalam hitungan jam. Aortic dissection sendiri terjadi ketika lapisan dinding aorta robek, memungkinkan darah masuk ke lapisan pembuluh darah tersebut.

“Pada fase akut, risiko kematian dapat meningkat sekitar satu hingga dua persen setiap jam dalam 24-48 jam pertama apabila tidak mendapatkan penanganan,” kata dr. Dicky saat menjelaskan kepada media di Serpong, Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Aorta adalah pembuluh darah utama yang bertugas mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh. Gangguan pada aorta, seperti aneurisma aorta atau diseksi aorta, seringkali berkembang tanpa gejala yang jelas hingga akhirnya memicu kondisi yang mengancam jiwa.

Secara global, insidensi acute aortic syndromes tercatat sekitar 4,8 per 100.000 orang per tahun. Di Indonesia, beban penyakit aneurisma aorta juga menunjukkan tren peningkatan.

dr. Dicky menyoroti bahwa dari sekitar 2.500 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 120 hingga 150 rumah sakit yang memiliki layanan bedah jantung. Lebih lanjut, hanya sedikit dari jumlah tersebut yang memiliki kemampuan komprehensif serta pengalaman dalam menangani kasus aorta kompleks dengan tingkat kesulitan tinggi.

Keberhasilan penanganan kasus aorta, lanjut dr. Dicky, tidak hanya bergantung pada satu dokter atau satu prosedur, melainkan pada kesiapan sistem pelayanan secara menyeluruh.

“Penanganan optimal membutuhkan koordinasi cepat antara Unit Gawat Darurat, radiologi, dokter bedah, anestesi, ICU, tim kardiologi hingga rehabilitasi dalam satu protokol yang terintegrasi,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia, Siloam Hospitals Lippo Village telah memperkuat kapabilitas layanan kardiovaskular kompleksnya. Rumah sakit ini memiliki pengalaman menangani lebih dari 40 ribu kasus kompleks secara multidisiplin selama lebih dari 30 tahun pelayanannya.

Siloam Hospitals Lippo Village kini menjadi salah satu fasilitas kesehatan di Indonesia yang mengimplementasikan teknik Frozen Elephant Trunk (FET). Teknik bedah modern ini dirancang khusus untuk menangani kasus aorta kompleks yang melibatkan area dada hingga perut.

“Teknik ini menjadi salah satu standar emas terbaru dalam penanganan bedah aorta modern,” jelasnya.

Selain teknik bedah terbuka dan FET, Siloam Hospitals juga didukung oleh layanan Endovascular Aortic Repair (EVAR/TEVAR), ICU kardiovaskular khusus pascaoperasi, CT Scan kardiovaskular 24 jam, serta tim multidisiplin terintegrasi yang terdiri dari spesialis bedah, kardiologi, anestesi, radiologi, dan intensive care.

Melalui penguatan layanan Aortic & Advanced Cardiovascular Center ini, Siloam Hospitals Lippo Village berharap dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap penanganan aorta kompleks berstandar tinggi di Indonesia.

“Ini juga sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat pada penyakit kardiovaskular yang mengancam jiwa,” pungkas dr. Dicky.