Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (27/3) menyatakan bahwa Kuba dapat menjadi sasaran tindakan AS di masa depan, menyusul operasi militer yang diklaimnya berhasil di Venezuela dan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam acara Future Investment Initiative, sebuah konferensi bisnis di Arab Saudi. “Saya membangun militer yang hebat ini. Saya berkata, ‘Anda tidak akan pernah perlu menggunakannya,’ tetapi terkadang Anda harus menggunakannya. Dan Kuba adalah target selanjutnya,” ujar Trump.

Namun, Trump kemudian meminta media untuk mengabaikan pernyataannya. “Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu. Tolong, anggap saya tidak mengatakannya. Tolong, tolong, tolong, media, tolong abaikan pernyataan itu,” tambahnya.

Kedaulatan Kuba Tak Bisa Ditawar

Menanggapi potensi ancaman atau diskusi mengenai hubungan bilateral, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel sebelumnya pada Rabu (25/3) telah menegaskan bahwa meskipun semua isu dapat dibahas dalam negosiasi dengan AS, kemerdekaan negara itu “tidak pernah” dapat dipertanyakan.

Berbicara kepada media berbahasa Spanyol Canal Red di Havana, Diaz-Canel menguraikan berbagai topik yang sedang dibahas dengan Washington. Ini mencakup investasi asing, arus migrasi, perdagangan narkoba, kontra-terorisme, perlindungan lingkungan, serta sains dan pendidikan.

“Kami dapat membahas semuanya, tetapi kedaulatan kami harus dihormati. Kemerdekaan dan sistem politik kami tidak pernah terbuka untuk diskusi,” tegas Diaz-Canel.