Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Sulawesi Tengah, memastikan layanan kebersihan dan pengangkutan sampah rumah tangga tetap beroperasi secara optimal selama masa libur Lebaran 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kebersihan kota di tengah potensi peningkatan volume sampah.

Layanan Piket dan Antisipasi Peningkatan Sampah

Sekretaris DLH Palu, Ibnu Mundzir, menjelaskan bahwa pengaturan jam kerja petugas telah disiapkan dengan sistem piket. “Petugas tetap melayani pengangkutan sampah. Jam kerja mereka sudah diatur, kami menerapkan sistem piket supaya kerja-kerja pelayanan kebersihan tetap maksimal,” ujar Ibnu di Palu, Kamis (19/3/2026).

Menurut Ibnu, selama bulan Ramadan, DLH Palu mencatat rata-rata timbulan sampah di ibu kota Sulawesi Tengah meningkat sekitar 10 hingga 20 persen. Peningkatan ini disebabkan oleh intensitas memasak rumah tangga yang lebih tinggi menjelang waktu berbuka puasa, sehingga sisa-sisa bahan makanan menjadi sampah.

Program Diet Sampah dan Pembatasan Plastik

Untuk mengatasi lonjakan sampah, DLH Palu akan menerapkan “Program Ramadhan Ramah Lingkungan dan Diet Plastik” pada momen Lebaran. “Maka Program Ramadhan Ramah Lingkungan dan Diet Plastik akan diterapkan pada momen Lebaran, sebagai bagian dari upaya menekan timbulan sampah rumah tangga,” kata Ibnu.

DLH juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan “Diet Sampah” pada momen Idul Fitri. Salah satu anjuran adalah membawa tikar atau alas yang dapat digunakan kembali saat Shalat Id di ruang terbuka, guna mencegah timbulan sampah di tempat-tempat ramai.

Selain itu, Ibnu menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam mengonsumsi makanan saat Lebaran. Ia memperingatkan bahwa food waste atau sampah sisa makanan sangat berpotensi melonjak drastis pada hari raya. “Mungkin orang-orang menganggap sampah sisa makanan hal sepele, justru hal ini menjadi masalah besar bila tidak dikelola dengan baik. Perlu penekanan bijak mengonsumsi makanan,” tegasnya.

Kota Palu sendiri gencar melakukan pembatasan penggunaan kemasan plastik sekali pakai di berbagai sektor, mulai dari pusat perbelanjaan, pusat kuliner, perkantoran, hingga rumah tangga. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah kota dalam menjaga kelangsungan lingkungan hidup.

Data DLH Palu menunjukkan bahwa rata-rata timbulan sampah di ibu kota Sulteng mencapai 170 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 71 persen merupakan sisa makanan, 11 persen sampah plastik, dan sisanya terdiri dari logam serta jenis sampah lainnya.

“Setiap orang berkontribusi terhadap sampah, maka sudah seharusnya warga lebih peka terhadap kebersihan. Sudah saatnya mengedepankan kebersihan, paling sederhana dimulai di tingkat keluarga,” tutup Ibnu Mundzir.