Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,16 persen secara bulanan (month-to-month) pada Januari 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year) DIY tercatat sebesar 3,30 persen. Angka inflasi tahun kalender (year-to-date) juga menunjukkan deflasi 0,16 persen, sejalan dengan inflasi bulanan.

Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, menjelaskan bahwa perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan menunjukkan variasi perubahan harga. “Beberapa kelompok mengalami deflasi namun beberapa kelompok lainnya mengalami inflasi,” kata Sentot.

Deflasi terdalam tercatat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,54 persen, diikuti oleh kelompok transportasi dengan deflasi 0,31 persen. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi secara bulanan, mencapai 4,15 persen.

Komoditas yang menjadi penyumbang deflasi terbesar secara bulanan pada Januari 2026 antara lain cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan bensin. Adapun komoditas pemicu inflasi terbesar meliputi emas perhiasan, sepeda motor, kacang tanah, bawang putih, dan bayam.

Secara tahunan, Sentot menambahkan, seluruh kelompok pengeluaran di DIY mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 18,4 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 8,42 persen.

Komoditas yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar meliputi tarif listrik, emas perhiasan, beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Sementara itu, komoditas yang berkontribusi pada deflasi tahunan adalah cabai merah, cabai rawit, bawang putih, tomat, dan buncis.

Berdasarkan wilayah penghitungan inflasi, Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi tahunan 3,11 persen dengan deflasi bulanan 0,17 persen pada Januari 2026. Kota Yogyakarta mengalami inflasi tahunan 3,55 persen dan deflasi bulanan 0,14 persen.

Nilai Tukar Petani Turun

Selain itu, BPS DIY juga melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) DIY pada Januari 2026 berada di angka 108,53, menunjukkan penurunan 1,36 persen dibandingkan Desember 2025.

Penurunan NTP ini dipengaruhi oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 3,05 persen menjadi 141,07, serta Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang turun 1,71 persen menjadi 129,99.

Penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani terutama disumbang oleh turunnya harga komoditas ayam ras pedaging, cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras. Sementara itu, penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani dipengaruhi oleh bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan daging ayam ras.

Berdasarkan subsektor, hanya dua subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu perikanan (Nilai Tukar Nelayan) yang naik 6,99 persen dan tanaman pangan yang meningkat 2,78 persen. Sebaliknya, subsektor hortikultura mengalami penurunan terdalam, yakni 12,89 persen.

Pada periode yang sama, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) DIY pada Januari 2026 juga tercatat menurun 3,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 112,45. Penurunan NTUP ini dipengaruhi oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 3,05 persen, dengan komoditas penyumbang utama meliputi ayam ras pedaging, cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras.

Di sisi lain, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) pada Januari 2026 justru mengalami kenaikan 0,90 persen menjadi 125,46. Kenaikan BPPBM ini dipengaruhi oleh meningkatnya biaya beberapa komoditas dan komponen produksi, antara lain ayam petelur layer, upah pemanenan, sewa tanah sawah, dan broiler starter. Hampir seluruh subsektor mengalami penurunan NTUP, kecuali subsektor perikanan nelayan yang mencatat kenaikan sebesar 5,18 persen.