Atap bangunan masjid di kompleks Pesantren Jamiatul Quro, Kampung Saeurih, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat, ambruk pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Insiden ini dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah tersebut.

Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa dalam kejadian ini. Masjid dilaporkan sedang tidak digunakan untuk kegiatan saat peristiwa ambruknya atap terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, menyatakan bahwa personelnya segera turun tangan untuk membantu penanganan. “Hari ini (Minggu) personel kami di BPBD membantu proses evakuasi pembersihan puing-puing kubah atau atap masjid yang ambruk akibat cuaca ekstrem,” kata Yoseph pada Minggu (25/1).

Berdasarkan asesmen BPBD di lapangan, Pesantren Jamiatul Quro memiliki 200 santri. Area masjid yang terdampak kerusakan tercatat memiliki dimensi panjang 7 meter dan lebar 6 meter.

Selain insiden masjid, cuaca ekstrem juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga di beberapa titik. Lokasi yang terdampak meliputi Kelurahan Limusnunggal dan Cibeureum Hilir (Kecamatan Cibeureum), Kelurahan Benteng (Kecamatan Warudoyong), serta Kelurahan Cipanengah, Cikundul, dan wilayah sekitar Kecamatan Lembursitu.

Tim BPBD juga menangani laporan pohon tumbang yang terjadi di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Lembursitu. Upaya penanganan dampak cuaca ekstrem ini terus dilakukan secara maraton sejak Sabtu malam.

Yoseph menegaskan bahwa pihaknya masih mewaspadai potensi cuaca ekstrem lanjutan. “Kami masih mewaspadai potensi cuaca ekstrem dengan menyiagakan personel serta peralatan dan perlengkapan. Kami juga koordinasi dengan aparatur wilayah di tingkat kelurahan dan kecamatan. Apabila terjadi bencana, segera laporkan agar penanganan bisa cepat dilakukan tim di lapangan,” pungkasnya.