Palu – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tengah (Sulteng) memastikan tingkat inflasi di provinsi itu tetap stabil hingga bulan Ramadhan 1557 Hijriah tahun 2026. Optimisme ini didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan inflasi month to month (m-to-m) Januari 2026 hanya 0,01 persen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng, Richard Arnaldo Djanggola, menyatakan proyeksi tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran. “Kami optimistis inflasi daerah terjaga, karena tingkat inflasi month to month (m-to-m) Januari 2026 hanya 0,01 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” kata Richard di Palu, Selasa (3/2/2026).
Richard menambahkan, data BPS juga mencatat tingkat inflasi year to date (y-to-d) Januari 2026 sebesar 0,01 persen. Kondisi ini didukung oleh ketersediaan cadangan bahan pangan yang sangat memadai, terutama komoditas beras.
Cadangan beras di Sulteng saat ini berada di angka 22 ribu ton. Pemerintah daerah bahkan berencana menambah stok komoditas tersebut sebanyak 10 ribu ton untuk menghadapi Ramadhan. “Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan, karena pemerintah daerah (pemda) dan para pihak lainnya terus melakukan langkah-langkah konkret demi menjaga ketersediaan stok maupun stabilitas harga bahan pokok di pasaran,” ujarnya.
Richard menjelaskan, komoditas yang diperkirakan dapat memengaruhi tingkat inflasi daerah adalah emas perhiasan dan tarif listrik. Data BPS menunjukkan, kedua komoditas ini memiliki andil sekitar 0,24 persen terhadap inflasi pada awal tahun.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap melakukan langkah antisipasi. Upaya tersebut meliputi optimalisasi gerakan pasar murah, peningkatan intensitas inspeksi di pasar untuk mencegah praktik curang seperti penimbunan bahan pangan oleh oknum distributor atau pedagang. Selain itu, kemitraan dengan pemangku kepentingan logistik pangan juga diperkuat guna mencegah monopoli harga di tingkat pasar.
“Momen-momen hari besar keagamaan sering terjadi lonjakan harga, maka tidak boleh harga komoditas pangan dinaikkan secara sepihak karena sejauh ini ketersediaan bahan pokok penting sangat memadai,” tegas Richard.
Di sisi lain, beberapa komoditas pangan justru memberikan andil terhadap deflasi m-to-m. Komoditas tersebut antara lain cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam. “Kami tidak ingin gegabah, komoditas pangan penting tetap menjadi prioritas pengawasan. Kami terus berupaya supaya momen Ramadhan tidak terjadi gejolak harga bahan pokok,” pungkasnya.
