MATARAM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai potensi lonjakan harga 14 komoditas pangan strategis menjelang periode Ramadhan hingga Lebaran 2026. Peningkatan permintaan masyarakat selama momen tersebut menjadi pemicu utama kekhawatiran ini.

Pelaksana tugas Kepala Disperindag Provinsi NTB, Irnadi Kusuma, menegaskan bahwa stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Langkah ini diambil guna menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi gejolak harga.

“Sebagian besar komoditas cenderung mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan. Kenaikan kerap terjadi secara mendadak,” ujar Irnadi Kusuma di Mataram, Sabtu (21/2/2026).

Irnadi menekankan pentingnya memastikan ketersediaan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, daging ayam, dan daging sapi di pasar dengan harga yang terjangkau. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga yang signifikan.

Meskipun sempat terjadi penurunan harga beberapa hari terakhir, komoditas pangan kembali menunjukkan tren kenaikan. Namun, Irnadi memastikan bahwa harga pangan berpeluang kembali normal pada akhir Februari 2026.

“Faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga adalah ketersediaan barang di pasar,” kata Irnadi.

Lebih lanjut, Irnadi mengungkapkan sejumlah tantangan dalam menjaga stabilitas harga di NTB. Kondisi geografis daerah kepulauan menjadi salah satu faktor yang berdampak pada distribusi. Selain itu, perubahan iklim dan tingginya biaya logistik antar pulau, yang mencapai 15–20 persen dari harga pokok komoditas, turut memperparah situasi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Disperindag NTB memperkuat koordinasi dengan kementerian terkait serta pemerintah kabupaten/kota. Langkah ini dilakukan guna memastikan kesiapan stok dan efektivitas langkah pengendalian harga.

“Komunikasi intensif dilakukan bersama Perum Bulog guna memastikan ketersediaan dan intervensi stok berjalan optimal,” pungkas Irnadi.