Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, memperkuat kerja sama dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) lain untuk menekan angka anak tidak sekolah di wilayah tersebut. Langkah ini diambil menyusul tingginya jumlah anak yang putus sekolah, yang saat ini mencapai 4.000 anak setelah proses verifikasi.

Kepala Disdikbud Kabupaten Sigi, Hajar Modjo, menegaskan bahwa permasalahan anak tidak sekolah di daerahnya menjadi prioritas. “Memang anak tidak sekolah di Kabupaten Sigi cukup tinggi dan urutan pertama di Sulawesi Tengah,” kata Hajar saat ditemui di Kalukubula Sigi, Minggu (8/2/2026).

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Validasi Data

Hajar Modjo menjelaskan, upaya pengentasan anak tidak sekolah ini melibatkan kolaborasi intensif dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), serta Dinas Sosial setempat. Kerja sama ini bertujuan untuk memperbarui dan memvalidasi data anak tidak sekolah, khususnya pada jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

“Kerja sama ini melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan (PMD), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) dan Dinas Sosial setempat, sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Hajar Modjo.

Ia menambahkan, data awal menunjukkan jumlah anak tidak sekolah mencapai 6.048 anak. Namun, setelah dilakukan verifikasi dan validasi ulang, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 4.000 anak.

Faktor Penyebab dan Sebaran Anak Tidak Sekolah

Menurut Hajar Modjo, faktor utama yang menyebabkan tingginya angka anak tidak sekolah di Kabupaten Sigi adalah kondisi ekonomi keluarga dan kasus pernikahan dini. Permasalahan ini menjadi tantangan serius yang memerlukan penanganan komprehensif dari berbagai pihak.

Sebaran anak tidak sekolah terbesar di Kabupaten Sigi teridentifikasi berada di wilayah Sigi Biromaru dan Marawola. Kedua wilayah ini merupakan daerah perbatasan dengan Kota Palu, yang diduga turut berkontribusi pada kompleksitas masalah.

Hajar Modjo menekankan pentingnya peran serta pemerintah kecamatan dan desa dalam upaya peningkatan mutu pendidikan anak. “Keterlibatan pemerintah kecamatan dan desa penting dalam meningkatkan mutu pendidikan anak di Kabupaten Sigi,” ujarnya.

Upaya Pemerintah Daerah Melalui Bantuan Seragam

Sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah, pada tahun 2025 lalu telah disalurkan bantuan seragam sekolah gratis. Sebanyak 2.306 paket seragam diberikan kepada anak-anak di jenjang SD dan SMP.

Rinciannya, 806 paket disalurkan untuk jenjang SMP dan 1.500 paket lainnya untuk jenjang SD. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga dan mendorong anak-anak untuk kembali mengenyam pendidikan formal.