Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menegaskan pentingnya pemanfaatan big data untuk memperkuat peran diseminasi informasi di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Pemanfaatan ini dinilai krusial dalam operasional dan pengambilan keputusan strategis.
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menyampaikan hal tersebut usai diskusi yang digelar oleh Rumah Perubahan di Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu, 7 Februari 2026. Menurut Benny, sebagai kantor berita, ANTARA harus menempatkan big data sebagai elemen utama.
“Bagi ANTARA selaku kantor berita, peran big data itu sangat, bahkan harus menjadi utama sebenarnya. Kenapa? Karena ANTARA itu adalah kantor berita. Kantor berita itu adalah instrumen globalisasi,” ujar Benny.
Ia menjelaskan, big data memungkinkan proses analisis data yang lebih mendalam. Analisis ini tidak hanya untuk kebutuhan pemberitaan, tetapi juga untuk mendukung pengambilan keputusan serta memahami konstruksi realitas sosial maupun politik. Melalui pengelolaan data yang tepat, informasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat, sekaligus membantu memetakan arah kebijakan ke depan.
Benny juga menekankan bahwa pemanfaatan big data berperan penting dalam mendukung kerja sama luar negeri dan diplomasi, serta memahami potensi krisis. Pemanfaatan data analitik, media sosial, dan analisis tren dinilai mampu membantu memprediksi berbagai dinamika yang sebelumnya rumit menjadi lebih terukur.
“Big data membantu kita dalam memahami proses yang terjadi, meskipun kita sebagai manusia tetap dipentingkan. Itu menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.
Penerapan big data, lanjut Benny, tidak hanya penting bagi korporasi, tetapi juga bagi lembaga pemerintah. Data yang dianalisis dapat memberikan arah kebijakan sekaligus mitigasi risiko, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Sebagai langkah konkret, perusahaan yang dipimpinnya kini tengah menyiapkan kerja sama dengan perusahaan big data guna mengoptimalkan pemanfaatan data yang dimiliki. Selain itu, ANTARA juga berencana mengajukan kebutuhan hak eksklusif untuk mengelola data visual kementerian dan lembaga.
Langkah ini bertujuan agar data visual tersebut dapat disinergikan dengan ekosistem big data yang lebih terintegrasi. “ANTARA juga ingin membangun sebuah permintaan kepada pemerintah, kebutuhan untuk hak eksklusif mengelola data visual yang ada di kementerian dan lembaga, sehingga itu bisa kita kelola dan menjadi big data yang lebih besar, yang membuat peran ANTARA sebagai ekosistem informasi negara betul-betul bisa kita wujudkan. Jadi bukan lagi sebuah rujukan berita, tapi sebuah ekosistem, aktornya,” pungkas Benny.
