Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, Joseph Kent, mengundurkan diri pada Selasa (17/3/2026). Keputusan ini diambil sebagai bentuk penolakan tegasnya terhadap perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

“Saya tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran,” tulis Kent dalam surat pengunduran dirinya yang dibagikan melalui platform media sosial X. Ia berargumen bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat, dan mengklaim bahwa konflik tersebut dipicu oleh tekanan eksternal.

Kent, seorang veteran militer yang telah ditugaskan dalam 11 operasi tempur, juga menyinggung kehilangan pribadi yang dialaminya. Ia menyebut dirinya sebagai “Gold Star husband” setelah istrinya, yang juga seorang prajurit, gugur dalam perang sebelumnya.

“Saya tidak dapat mendukung pengiriman generasi berikutnya untuk bertempur dan mati dalam perang yang tidak memberikan manfaat bagi rakyat Amerika maupun sebanding dengan pengorbanan nyawa,” tegas Kent.

Dalam pernyataannya, Kent turut melayangkan kritik tajam kepada pejabat Israel dan sejumlah tokoh media Amerika. Ia menuduh mereka telah menyesatkan pemerintah dan menarik perbandingan dengan perang Irak yang dinilainya bencana.

“… Taktik yang sama yang digunakan Israel untuk menyeret kita ke dalam perang Irak yang berakhir bencana, yang merenggut nyawa ribuan putra-putri terbaik bangsa kita. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan ini,” ujarnya.

Kent juga menyampaikan pesan langsung kepada Presiden AS Donald Trump, mendesaknya untuk segera mengubah arah kebijakan luar negeri. “Anda dapat membalikkan arah dan menentukan jalan baru bagi negara kita, atau membiarkan kita semakin terjerumus ke dalam kemunduran dan kekacauan,” tulis Kent. “Keputusan ada di tangan Anda.”

Pengunduran diri Kent terjadi di tengah konflik Amerika Serikat-Israel-Iran yang telah memasuki hari ke-16 pada Minggu (15/3/2026), dengan pasukan keamanan dan penyelamat Israel masih bekerja di lokasi serangan Iran di Tel Aviv.