Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bergerak cepat mengimplementasikan langkah-langkah preventif guna membendung potensi penyebaran virus Hanta di wilayahnya. Instruksi kewaspadaan terhadap Hantavirus telah disebarkan ke 10 kabupaten/kota menyusul adanya laporan kasus konfirmasi pada kapal pesiar Hondius.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa pemantauan ketat sangat krusial sebagai bentuk deteksi dini. “Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kejadian konfirmasi di kapal pesiar Hondius, kami perlu melakukan pemantauan dan upaya pencegahannya,” ujar Jaya di Samarinda, Kamis (14/5/2026).

Pengawasan Ketat Gejala Pneumonia dan ISPA

Dinkes Kaltim kini menginstruksikan seluruh jajaran kesehatan untuk meningkatkan pengawasan terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pneumonia berat. Selain itu, pemerintah daerah diminta untuk memantau gejala klinis yang menyerupai demam berdarah dan leptospirosis, mengingat kemiripan gejala awal dengan infeksi Hantavirus.

Jaya menambahkan bahwa sistem pelaporan harus berjalan secara real-time dan terintegrasi. “Pemantauan berbagai kasus tersebut harus terus dilakukan secara terpadu melalui pemanfaatan optimalisasi aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” jelasnya. Setiap temuan kasus infeksi baru di fasilitas kesehatan wajib dilaporkan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Imbauan bagi Pendaki dan Pelaku Perjalanan

Selain masyarakat umum, Dinkes Kaltim juga memberikan perhatian khusus kepada warga yang memiliki hobi aktivitas luar ruangan. Para pendaki gunung dan masyarakat yang gemar berkemah diminta untuk ekstra waspada dalam menekan sumber infeksi di alam liar, terutama yang berkaitan dengan populasi tikus.

Bagi pelaku perjalanan luar negeri, Jaya mengimbau agar selalu mematuhi regulasi kesehatan di negara tujuan. Warga yang mengalami gejala klinis mencurigakan, terutama setelah melakukan perjalanan atau kontak dengan area populasi tikus, diminta segera mendatangi unit layanan medis terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Upaya kolaboratif antara pemerintah dan peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam mengendalikan faktor risiko penularan Hantavirus.