DINAS Kesehatan (Dinkes) Berau kembali menegaskan urgensi pemberian imunisasi dasar lengkap bagi anak. Langkah ini dinilai krusial sebagai benteng utama pencegahan berbagai penyakit berbahaya sejak dini, sekaligus membangun kekebalan kelompok di masyarakat.
Petugas Tim Surveilans Imunisasi Dinkes Berau, Adi Haryono, menjelaskan bahwa imunisasi bukan hanya kebutuhan individu, melainkan juga perlindungan kolektif. “Imunisasi ini bukan sekadar kebutuhan individu, tapi juga melindungi lingkungan sekitar melalui kekebalan kelompok,” tegas Adi pada Jumat (27/3/2026).
Jenis Vaksin Dasar yang Wajib Dipenuhi
Adi memaparkan, ada sejumlah vaksin dasar yang wajib dipenuhi anak secara bertahap sesuai jadwal. Vaksin tersebut meliputi:
- BCG untuk mencegah tuberkulosis.
- DPT-Hib untuk perlindungan dari difteri, tetanus, batuk rejan, serta infeksi bakteri serius lainnya.
- Vaksin hepatitis B untuk mencegah penyakit hati.
- Vaksin polio, baik dalam bentuk tetes (OPV) maupun suntik (IPV).
- Vaksin MR atau MMR untuk mencegah campak dan rubella.
Selain itu, anak juga dianjurkan mendapatkan beberapa vaksin tambahan seperti PCV, rotavirus, Japanese Encephalitis (JE), hingga HPV sebagai perlindungan dari kanker serviks di masa depan.
Vaksin Aman dan Efektif
Adi Haryono menekankan bahwa seluruh jenis vaksin yang diberikan telah melewati proses uji klinis ketat dan dinyatakan aman untuk digunakan. Efek samping ringan, seperti demam setelah imunisasi, merupakan respons normal tubuh dalam membentuk kekebalan.
“Informasi yang menyebut vaksin bisa menyebabkan autisme atau penyakit lain itu tidak benar. Secara medis sudah terbukti tidak ada kaitannya,” bantah Adi, menepis kekhawatiran yang kerap muncul di masyarakat.
Edukasi dan Akses Layanan Imunisasi
Meski demikian, Adi mengakui masih ada sebagian orang tua yang ragu memberikan imunisasi kepada anak akibat terpengaruh informasi yang tidak tepat. Padahal, tanpa imunisasi, risiko anak terpapar penyakit serius justru semakin tinggi.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Dinkes Berau terus gencar melakukan edukasi melalui berbagai pendekatan, mulai dari sosialisasi langsung, kerja sama lintas sektor, hingga pemanfaatan media lokal.
Di sisi lain, kemudahan akses layanan juga menjadi prioritas. Imunisasi tersedia secara gratis di berbagai fasilitas kesehatan seperti posyandu dan puskesmas, bahkan melalui program jemput bola ke sekolah-sekolah.
“Fasilitas sudah tersedia dan mudah dijangkau. Tinggal bagaimana kesadaran orang tua untuk memastikan anaknya mendapatkan imunisasi lengkap,” pungkas Adi Haryono, berharap semakin banyak orang tua yang memahami bahwa imunisasi merupakan investasi kesehatan jangka panjang demi generasi yang lebih sehat dan terlindungi.
