Dinas Pertanian Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat penurunan drastis produksi jagung dari 1.141 ton pada tahun 2024 menjadi hanya 36,376 ton pada tahun 2025. Kondisi ini terjadi seiring dengan keputusan sebagian besar petani untuk beralih menanam padi.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram, H Lalu Johari, menjelaskan bahwa salah satu faktor penyebab anjloknya produksi jagung adalah pola tanam di Mataram. “Kondisi itu terjadi antara karena IP 3 (Indeks Pertanaman) Kota Mataram dalam setahun 3 kali penanaman, dengan masa 4 bulan dari tanam sampai panen,” ujar Johari di Mataram, Kamis (26/02/2026).

Selain itu, hasil evaluasi produksi pangan menunjukkan bahwa ketersediaan air yang cukup untuk tanaman padi mendorong petani untuk mengubah komoditas tanam. Petani yang sebelumnya menanam jagung kini memilih padi, terutama di lahan seluas 1.485 hektare. “Sebelumnya petani menanam jagung karena kurang tersedianya air,” tambah Johari.

Johari juga menyoroti bahwa sebagian besar petani di Kota Mataram merupakan petani penggarap yang menyewa lahan pertanian. Untuk memaksimalkan keuntungan, mereka cenderung memilih menanam padi. Pertimbangan ini didasari oleh beberapa faktor, antara lain perawatan padi yang lebih mudah, harga jual yang relatif stabil, kemudahan penjualan, serta risiko kegagalan panen yang lebih kecil dibandingkan jagung.

Produksi Padi Meningkat Signifikan

Berbanding terbalik dengan jagung, produksi tanaman padi di Kota Mataram justru mengalami kenaikan signifikan pada tahun 2025. Data menunjukkan peningkatan dari 23.078 ton pada tahun 2024 menjadi 24.411 ton pada tahun 2025. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 1.333 ton atau sekitar 105,78 persen.

Peningkatan produksi padi ini, menurut Johari, tidak lepas dari peran aktif tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Tim POPT secara konsisten memastikan dan melakukan tindakan penanganan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti penggerek batang dan wereng, terutama saat musim hujan. Penanganan cepat dengan bantuan obat-obatan oleh tim POPT berhasil mengendalikan hama dan penyakit, sehingga tidak mengganggu produksi padi.

“Hal itulah, yang membantu peningkatan produksi padi di Mataram, meskipun LBS berkurang,” pungkas H Lalu Johari.