MATARAM – Jumlah pemotongan sapi di rumah potong hewan (RPH) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengalami peningkatan signifikan sejak memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kenaikan ini dipicu oleh tingginya animo masyarakat untuk membeli daging sapi segar sebagai kebutuhan menu berbuka puasa dan sahur.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Hapiludin, mengungkapkan bahwa terjadi kenaikan pemotongan sapi di dua RPH yang ada di Mataram. “Selama Ramadhan, ada kenaikan pemotongan sapi di dua RPH sebanyak 4-6 ekor per hari,” ujarnya di Mataram, Jumat (27/02/2026).
Biasanya, pemotongan sapi di dua RPH Kota Mataram berkisar antara 60 hingga 70 ekor per hari. Namun, dengan adanya peningkatan tersebut, kini jumlah pemotongan mencapai 66 hingga 74 ekor per hari.
Mataram memiliki dua RPH, yakni RPH Majeluk dan RPH Gubuk Mamben Sekerbela. Pada hari normal, setiap RPH memotong sekitar 30 hingga 35 ekor sapi per hari. “Tapi sejak H-1 Ramadhan, sampai hari ini terjadi kenaikan pemotongan setiap hari masing-masing 2-3 ekor,” jelas Hapiludin.
Peningkatan pemotongan ternak sapi ini dinilai masih dalam batas wajar. Kenaikan yang lebih signifikan diperkirakan akan terjadi pada H-1 Idul Fitri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan merayakan hari kemenangan. Pada momen tersebut, jumlah pemotongan di dua RPH bisa mencapai 100 hingga 140 ekor. “Pada H-1 Idul Fitri, masing-masing RPH bisa memotong sapi 50 ekor hingga 70 ekor,” tambahnya.
Mengenai kebutuhan daging beku untuk menstabilkan harga saat Idul Fitri, Hapiludin menjelaskan bahwa masyarakat Kota Mataram masih cenderung memilih daging segar, meskipun harganya sedikit lebih mahal. Selain itu, daging beku selama ini tidak diizinkan dijual di pasar tradisional, sehingga pangsa pasarnya lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan katering (horeka).
Terkait harga, ia menambahkan bahwa harga daging bervariasi tergantung kualitas dan bagian organ sapi, seperti kelas super, medium, dan campuran. “Tapi biasanya harga yang disebut selalu yang super sehingga terkesan harga daging tinggi yakni mencapai Rp150.000 per kilogram. Padahal, ada juga di bawah itu karena tergantung kualitas,” pungkasnya.
