Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mencatat satu kasus campak yang kini dalam penanganan. Pemerintah daerah memastikan kondisi masih terkendali dan belum ditemukan kasus tambahan hingga Rabu, 11 Maret 2026.
Kepala Dikes KLU, dr. Lalu Bahrudin, menjelaskan bahwa kasus tersebut telah ditangani oleh tenaga kesehatan dan pasien sudah mendapatkan pengobatan. Sampel pasien juga telah dikirim ke laboratorium di Surabaya untuk memastikan diagnosis secara pasti.
“Kasus campak di Lombok Utara menurut data di Dinas Kesehatan baru satu kasus, dan sudah dilakukan pengobatan. Saat ini kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Surabaya,” ujar dr. Baharudin, Selasa (10/03/2026).
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan kasus susulan di wilayah Lombok Utara. Dikes KLU terus melakukan pemantauan guna memastikan tidak terjadi penyebaran lebih luas di masyarakat.
Di sisi lain, upaya pencegahan tetap dilakukan melalui program imunisasi rutin yang dilaksanakan di posyandu. Dr. Baharudin menjelaskan bahwa vaksin campak tetap diberikan kepada anak-anak sesuai jadwal imunisasi dasar yang telah ditetapkan pemerintah.
“Vaksin rutin diberikan pada saat kegiatan posyandu,” jelasnya.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat masih ada sebagian masyarakat yang ragu atau enggan membawa anaknya untuk mendapatkan vaksin. Padahal, imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular seperti campak.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyebut Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk salah satu provinsi yang masuk kategori kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus campak. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi vitamin, serta memastikan tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
