Persipura Jayapura dijatuhi hukuman berat oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI berupa larangan menggelar pertandingan kandang dengan penonton selama satu musim penuh pada kompetisi 2026/2027. Sanksi ini merupakan imbas dari kerusuhan yang pecah seusai laga playoff promosi melawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe.

Klub berjuluk Mutiara Hitam tersebut mengakui memahami keputusan disipliner yang dijatuhkan federasi. Namun, manajemen Persipura menegaskan bahwa pembenahan sepak bola nasional tidak bisa hanya dilakukan melalui sanksi, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif PSSI dalam membina suporter.

Kerusuhan terjadi setelah Persipura tumbang 0-1 dari Adhyaksa FC. Kekecewaan suporter memuncak menjadi aksi anarkis ketika sejumlah pendukung menyerbu lapangan, merusak fasilitas stadion, hingga membakar kendaraan di area sekitar pertandingan pada Kamis, 21 Mei 2026.

“Kami memahami bahwa disiplin, keamanan, serta kepatuhan terhadap regulasi FIFA dan PSSI merupakan bagian penting dalam membangun sepakbola Indonesia yang lebih baik dan profesional,” demikian bunyi pernyataan resmi Persipura menanggapi sanksi tersebut.

Lebih lanjut, Persipura mendesak PSSI untuk lebih aktif turun langsung melakukan pendekatan kepada komunitas suporter. Klub menilai edukasi, sosialisasi, dan komunikasi intensif harus menjadi program berkelanjutan demi menciptakan budaya mendukung tim yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

“Yang tidak kalah penting ke depannya ialah edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada para suporter, pendukung, serta penonton secara umum membangun kesadaran yang lebih baik tentang bagaimana mendukung tim secara bertanggung jawab, menghormati regulasi, menjaga ketertiban, serta saling menjaga satu sama lain selama pertandingan berlangsung,” tambah pernyataan Persipura.

Manajemen Persipura berharap PSSI dapat bekerja sama lebih aktif dalam mengedukasi suporter agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang, demi terciptanya iklim sepak bola yang kondusif dan profesional.