BATAM, Meskipun data resmi menunjukkan Kota Batam mengalami deflasi pada Januari 2026, kondisi di pasar tradisional masih memicu keluhan dari masyarakat. Sejumlah warga menilai harga kebutuhan pokok belum sepenuhnya turun dan tetap membebani anggaran belanja.

Berdasarkan catatan 10 komoditas dengan andil inflasi dan deflasi terbesar secara bulanan (month-to-month), cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil -0,31 persen. Disusul oleh cabai rawit yang menyumbang deflasi sebesar -0,07 persen.

Selain itu, beberapa jenis sayuran juga turut menahan laju inflasi. Bayam dan kangkung masing-masing menyumbang deflasi -0,05 persen, sementara sawi hijau dan buncis masing-masing -0,03 persen.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Wahyu Daryatin, menjelaskan bahwa penurunan harga ini dipengaruhi oleh kelancaran pasokan dan distribusi dari daerah pemasok.

“Pasokan relatif aman dan distribusi lancar, sehingga beberapa komoditas hortikultura mengalami penurunan harga dan memberi andil deflasi,” ujar Wahyu, Kamis (12/2).

Namun, pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan realitas yang berbeda. Harga di tingkat eceran belum sepenuhnya mencerminkan angka penurunan deflasi tersebut. Beberapa konsumen mengaku masih merasakan beban belanja yang cukup tinggi.

“Memang cabai agak turun, tapi beras dan bahan lain masih mahal. Belanja tetap terasa berat,” kata Rina (38), warga Batam Center, saat ditemui di pasar.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh pembeli lainnya yang menilai penurunan harga belum merata di semua komoditas. Mereka berharap harga kebutuhan pokok dapat benar-benar stabil dan terjangkau oleh masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Wahyu Daryatin menjelaskan kemungkinan adanya perbedaan waktu penyesuaian harga antara distributor dan pedagang eceran. Selain itu, stok lama yang dibeli dengan harga tinggi juga dapat memengaruhi harga jual saat ini.

“Biasanya ada jeda waktu penyesuaian di tingkat pengecer. Kami terus melakukan monitoring harian agar penurunan harga bisa segera dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, data juga mencatat beberapa komoditas yang justru mendorong inflasi. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,23 persen, diikuti oleh beras 0,11 persen, dan sewa rumah 0,05 persen.

Kondisi ini menyoroti adanya kesenjangan antara tren statistik makro dan realitas harga di lapangan, yang masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat Batam.