Muhammad Radika Afwa Bimalaksa, siswa kelas XII dari SMK Telkom Malang, berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Aksa, sapaan akrabnya, menjadi salah satu dari empat delegasi yang mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi BRICS Innovation Contest 2026.

Keberhasilan Aksa ini berawal dari inovasinya menciptakan aplikasi bernama Revive Refashion. Aplikasi ini merupakan sebuah ekosistem digital yang dirancang untuk pengelolaan limbah tekstil, sekaligus menjadi penghubung antara kontributor limbah tekstil dengan pihak pendaur ulang. Bersama tiga delegasi lainnya, yaitu Sofian Hadi dari Nusa Tenggara Barat, Muhammad Achdan Taris dari Aceh, dan Fitriyyah dari Pontianak, Kalimantan Barat, Aksa berhasil menyisihkan 126 pendaftar lain dari seluruh Indonesia.

Aksa mengaku awalnya tidak menyangka bisa lolos mewakili Indonesia di ajang internasional BRICS. Proses seleksi yang ketat, termasuk penyusunan dokumen karya untuk seleksi awal, menjadi tantangan tersendiri baginya. “Saya harus menyusun email pengantar dengan cepat, waktunya juga mepet. Selain itu, menyeleksi prestasi mana yang paling relevan dengan negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan South Africa) juga cukup menantang,” ujarnya pada Kamis (30/4/2026).

Pengalaman Aksa saat mendapatkan beasiswa Cyber Defense Academy turut memengaruhi proses seleksi jelang BRICS. Ia juga sengaja memilih kriteria B, yakni pemuda yang terlibat dalam inisiasi lingkungan dan kesukarelawanan, yang dilatarbelakangi oleh aplikasi Revive Refashion, untuk mendaftar sebagai delegasi melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

“Saya mencantumkan produk startup saya dan rekan saya Revive Refashion, sebuah ekosistem digital untuk pengelolaan limbah tekstil, serta pehubung kontributor limbah tekstil dengan pendaur ulang,” tuturnya.

Aplikasi Revive Refashion sendiri telah meraih prestasi membanggakan. Pada Juli 2025, aplikasi ini mendapat penghargaan Most Promising Startup di Green Tech Innovation Showcase yang diselenggarakan oleh British Embassy Jakarta melalui UK-Indonesia Tech Hub, bekerja sama dengan Instellar Impact dan komdigi. Sebelumnya, Aksa juga telah mengikuti program inkubasi intensif di Surabaya dan berhak terbang ke Jakarta.

“Revive Refashion saya gunakan untuk daftar delegasi (BRICS) melalui Kemenpora, tapi di konferensinya saya tidak menampilkan Revive Refashion, yang incubation program Revive Refashion itu dari British Embassy Jakarta,” jelasnya.

Kini, Aksa harus bersaing dengan delegasi dari negara-negara anggota BRICS lainnya, seperti Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Ia memiliki keinginan kuat untuk mempelajari tata kelola mobilitas pemuda global dari negara-negara tersebut, khususnya Rusia, yang dikenal dengan pengelolaan ribuan partisipan asing melalui Wyffest (World Youth Festival).

“Saya ingin mengimplementasikan ilmu dan jejaring tersebut untuk merintis platform program volunteer internasional di Indonesia yang secara khusus menargetkan WNA (Warga Negara Asing) dan pelajar global,” ungkapnya.

Menurut Aksa, selama ini masih jarang ada pemuda dari berbagai negara yang menjadi sukarelawan di berbagai daerah di Indonesia. Melalui kegiatan BRICS dan inovasinya, ia optimis mampu memperbanyak kunjungan Warga Negara Asing (WNA) ke Indonesia hingga daerah-daerah terpencil, bukan sekadar sebagai turis biasa, melainkan ikut andil dalam proyek sosial di pelosok daerah.

“Dampak jangka panjangnya, ini akan membuka pintu pemerataan pariwisata yang lebih luas, sehingga kunjungan turis asing tidak lagi hanya terpusat di Bali atau Jakarta saja,” pungkasnya.