Dr. Shutan Arie Shandi kini berdiri tegak di hadapan mahasiswa, membagikan ilmu dan pengalaman hidupnya sebagai dosen di STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun, di balik gelar doktor yang disandangnya, tersimpan sebuah perjalanan panjang penuh liku, dari seorang mekanik bengkel hingga meraih puncak pendidikan tinggi.
Pria kelahiran Desa Pesa, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima ini tumbuh dalam dekapan keluarga sederhana. Ayahnya, seorang guru sekolah dasar, mengabdikan diri di berbagai pelosok terpencil, berjuang mencerdaskan anak bangsa dengan segala keterbatasan. Kondisi ekonomi keluarga sempat membuat Shutan harus mengubur sementara mimpinya melanjutkan pendidikan.
Ia memilih jalan lain, bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel sepeda motor di Kota Bima. Hari-harinya dihabiskan dengan membongkar mesin, membersihkan karburator, dan akrab dengan kunci pas serta lumuran oli. Namun, di tengah rutinitas itu, sebuah pesan sederhana dari sang ayah terus terngiang dan menjadi pemicu semangatnya.
“Bapak hanya tamatan SPG. Minimal ada anak bapak yang bisa sampai diploma,” kenang Shutan, mengulang pesan ayahnya yang kemudian menjadi penguat tekadnya untuk kembali mengejar pendidikan. Kesempatan itu datang pada tahun 2005, saat ia mendaftar di Universitas Terbuka dan mengambil program Diploma II Pendidikan Olahraga.
Masa kuliah dijalaninya dengan perjuangan ganda. Ia harus membagi waktu antara bekerja di bengkel dan mengikuti kegiatan akademik. Jemari yang terbiasa memegang peralatan mesin perlahan belajar menekan tombol keyboard komputer, menyelesaikan tugas kuliah dengan bantuan rekan dan mentor.
Setelah meraih gelar diploma, Shutan melanjutkan pendidikan strata satu di STKIP Taman Siswa Bima, menyelesaikannya pada tahun 2011. Perjalanan akademiknya tak berhenti di sana. Ia kemudian mendapat kesempatan menjadi asisten dosen dan melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa yayasan, berkat rekomendasi akademisi setempat.
Kesempatan tersebut membuka jalan yang lebih luas bagi Shutan untuk mendalami dunia pendidikan dan penelitian, hingga akhirnya berhasil meraih gelar doktor. Kini, ia menjadi bukti nyata bahwa latar belakang kehidupan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.
“Kualitas seseorang tidak ditentukan dari mana ia memulai, tetapi dari semangat dan ketekunan dalam menjalani proses,” ujarnya, menegaskan filosofi hidup yang ia pegang teguh. Kisah Dr. Shutan Arie Shandi, dari bengkel sederhana hingga meraih gelar doktor, adalah pengingat kuat bahwa pendidikan adalah jalan perubahan bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk terus belajar dan berusaha.
