Wajah seni tradisional Jawa Timur bersiap menyapa warga di gang-gang sempit hingga balai desa. Seniman kawakan Meimura, yang juga dikenal sebagai Meijono, memulai program “Besut Jajah Deso Milangkori” yang akan menyambangi 10 kota di Jawa Timur. Inisiatif ini bukan sekadar pementasan biasa, melainkan upaya menghidupkan kembali roh Besutan, cikal bakal ludruk yang tumbuh dari keresahan rakyat jelata.
Menghidupkan Kembali Besutan dengan Ludruk Garingan
Berbeda dengan panggung proscenium yang kaku, Meimura mengusung format Ludruk Garingan yang cair. Pertunjukan ini secara aktif menuntut partisipasi seniman lokal dan masyarakat setempat di tiap daerah yang dikunjungi. Meimura menjelaskan filosofi di balik pendekatan ini.
“Besutan itu seni tutur yang sangat lentur. Dia lahir dari kegelisahan masyarakat dan tampil dengan gaya apa adanya; tanpa perlu panggung mewah atau protokol seni yang rumit,” ujar Meimura melalui siaran tertulisnya, Jumat (03/4/2026).
Jadwal Tur dan Kolaborasi Budaya
Surabaya terpilih menjadi titik awal perjalanan budaya ini. Meimura dijadwalkan beraksi di Balai RW VIII Gunung Anyar Emas pada Sabtu, 4 April 2026, mulai pukul 19.00 WIB. Acara di Surabaya tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga diperkaya dengan dialog budaya bersama narasumber Imam Ghozali dari Jombang dan Henri Nurcahyo dari Sidoarjo, yang akan dipandu oleh moderator Ribut Wijoto.
Setelah Surabaya, estafet budaya akan berlanjut ke Sidoarjo pada 10 April 2026, bertempat di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda). Sesuai jadwal, tur kemudian berlanjut ke Nganjuk pada 25 April, disusul kota-kota lain seperti Mojokerto, Jombang, Malang, Kediri, Madiun, Blitar, hingga berakhir di Jember.
Besutan: Media Kritik Sosial dari Akar Rumput
Meimura, yang terbiasa memainkan peran ganda sebagai tokoh Besut sekaligus Rusmini, menjelaskan bahwa Besutan memiliki sejarah panjang sebagai media kritik sosial. Berakar dari Kesenian Lerok yang bersifat ngamen, Besutan dulunya berpindah dari satu pasar ke alun-alun untuk memotret realitas politik dan sosial lewat humor serta improvisasi spontan.
“Program ini menjadi ruang terbuka bagi seniman di daerah untuk ikut naik panggung, berimprovisasi bersama, dan membicarakan kondisi daerah mereka sendiri melalui kacamata budaya,” tambah Meimura.
Inisiatif pelestarian budaya ini berhasil berjalan berkat dukungan Program Pemanfaatan Ruang Publik Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan. Melalui skema pengajuan perorangan, Meimura membuktikan bahwa seniman mandiri mampu menggerakkan roda pelestarian budaya dalam skala masif di tingkat akar rumput.
