Beijing (ANTARA) – China menegaskan posisinya yang objektif dan adil di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait agresi Amerika Serikat terhadap Iran. Penegasan ini disampaikan saat Presiden AS Donald Trump melontarkan ultimatum keras, memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika Iran tidak menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz.

China Serukan Gencatan Senjata dan Dialog

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa (7/4/2026), menyatakan bahwa negaranya telah memegang posisi yang seimbang sejak konflik dimulai. “Sejak konflik dimulai, China telah memegang posisi yang objektif, adil, dan seimbang serta telah berupaya membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik,” ujar Mao Ning.

Mao Ning menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan berbagai pihak, termasuk Iran, Israel, Rusia, dan negara-negara Teluk. Utusan Khusus Pemerintah China untuk Masalah Timur Tengah juga telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut dalam upaya mediasi. Pekan lalu, China dan Pakistan bahkan mengeluarkan inisiatif lima poin untuk mewujudkan konsensus internasional demi gencatan senjata dan perdamaian.

Menurut Mao Ning, akar penyebab konflik adalah serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional. Oleh karena itu, prioritas utama adalah mengakhiri operasi militer segera dan kembali ke dialog dan negosiasi. “Akar penyebab konflik adalah serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional sehingga prioritas utama adalah mengakhiri operasi militer segera dan kembali ke dialog dan negosiasi,” tegasnya.

China meyakini bahwa penggunaan kekerasan tidak akan membawa perdamaian, melainkan penyelesaian lewat jalur politik adalah jalan yang benar. “Semua pihak perlu menunjukkan ketulusan dan segera mengakhiri perang ini yang seharusnya tidak terjadi sejak awal. Kami berharap pihak-pihak terkait akan memanfaatkan kesempatan untuk perdamaian, menjembatani perbedaan melalui dialog, dan mengakhiri konflik sesegera mungkin,” ungkap Mao Ning.

Ultimatum Keras Donald Trump kepada Iran

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Selasa pagi waktu AS meningkatkan ancamannya terhadap Iran. Melalui platform Truth Social, Trump memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi.”

Trump menetapkan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 EDT (atau Rabu 07.00 WIB) dan mengancam bahwa infrastruktur vital Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik, akan “dihancurkan” jika tidak ada kesepakatan yang dicapai. Ia juga menyinggung kemungkinan “perubahan rezim yang lengkap dan total” di Iran. “Namun, sekarang kita memiliki perubahan rezim yang lengkap dan total, di mana pikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan kurang radikal berkuasa, mungkin sesuatu yang revolusioner dan luar biasa dapat terjadi, SIAPA TAHU? Kita akan mengetahuinya malam ini, salah satu momen terpenting dalam sejarah dunia yang panjang dan kompleks,” tulis Trump.

Ancaman ini muncul setelah pasukan AS semalam menyerang target militer di Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran. Trump sebelumnya membual bahwa militer Iran telah “dihancurkan” namun mengakui bahwa Iran masih mengendalikan arus lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Pada konferensi pers Gedung Putih pada Senin (6/4), Trump menegaskan bahwa agar Iran dapat menghindari tenggat waktu tersebut, mereka harus menyetujui “kesepakatan yang dapat diterima oleh saya, dan bagian dari kesepakatan itu adalah, kami menginginkan lalu lintas minyak dan semua hal lainnya yang bebas.”

Blokade Selat Hormuz dan Respon Iran

Iran telah memblokir sebagian besar transit minyak melalui Selat Hormuz sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari 2026. Penutupan jalur strategis ini telah menyebabkan guncangan pasokan minyak yang bersejarah, memicu lonjakan harga energi global.

Sebagai balasan, Teheran telah melakukan serangan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Parlemen Iran juga telah menyetujui rancangan undang-undang yang akan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menggunakan mata uang rial, melarang transit bagi AS dan Israel, serta membatasi negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.

Meskipun ada seruan gencatan senjata, Iran dengan tegas menolak gagasan tersebut tanpa jaminan yang kuat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Teheran “hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika ada jaminan untuk mencegah perang kembali terjadi.” Selain itu, Iran menuntut keputusan terkait keamanan nasional “harus memastikan tidak ada tindakan agresi lebih lanjut.”

Dampak Ekonomi dan Harga Minyak Dunia

Menjelang tenggat waktu yang ditetapkan AS, harga minyak dunia menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Selasa (7/4) pukul 06.30 GMT, harga minyak Brent naik 1,5 persen menjadi sekitar 111,4 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,7 persen menjadi 115,3 dolar AS per barel.