Perum Bulog Cabang Tulungagung menyatakan optimistis dapat memenuhi target serapan beras dan jagung pipil pada tahun 2026. Target yang ditetapkan pemerintah ini meningkat signifikan 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya, seiring upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Hingga Februari 2026, Bulog Tulungagung telah menyerap 15 ribu ton gabah kering panen (GKP) dan 5 ribu ton jagung pipil kering.

Peningkatan Target Serapan Nasional dan Lokal

Pemerintah menargetkan serapan Perum Bulog secara nasional sebesar 4 juta ton setara beras dan 1 juta ton jagung pipil pada tahun ini. Untuk wilayah kerja Bulog Tulungagung, target yang harus dicapai adalah 64 ribu ton setara beras dan 11 ribu ton jagung pipil. Angka ini melonjak 52 persen dari target tahun 2025 yang hanya 42 ribu ton setara beras.

Pemimpin Bulog Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, mengakui bahwa target tersebut menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia yakin dapat mencapainya berkat dukungan berbagai pihak. “Wilayah kerja kami berada pada daerah-daerah yang merupakan sentra produksi padi dan jagung. Kami optimis target serapan tahun 2026 ini bisa tercapai. Apalagi kita sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, TNI, POLRI, para penyuluh, serta mitra penggilingan dan pengeringan yang ada di wilayah kita. Kalau tahun 2025 kita bisa 100%, insya Allah 2026 juga bisa kita optimalkan,” ujar Yonas pada Jumat (27/2/2026).

Strategi Penyerapan Langsung dan Kualitas Gabah

Yonas menjelaskan, penyerapan gabah dilakukan secara masif dan langsung ke petani. Saat ditemui di Desa TanggulKundung, Kecamatan Besuki, ia memantau langsung kegiatan tim jemput pangan. Bulog membeli gabah petani seharga Rp6.500 per kilogram dengan syarat kualitas tertentu.

“Kita serap langsung ke petani, gabah petani kita beli Rp6.500 per kilogram tentunya dengan kondisi yang sesuai dengan ketentuan dari pemerintah, antara lain, gabah yang dipanen sudah cukup umur untuk dipanen, bukan gabah muda yang banyak hijaunya, dan memang gabah yang baru dipanen bukan gabah yang sudah mengendap berhari-hari sehingga jadi rusak. Kondisi gabah ini perlu jadi perhatian karena akan mempengaruhi beras yang dihasilkan nantinya. Karena beras ini nantinya akan menjadi stok cadangan pangan nasional, pastinya kualitasnya tidak boleh asal-asalan,” jelas Yonas.

Capaian Positif dan Antisipasi Kendala

Capaian serapan di awal tahun 2026 ini menunjukkan tren positif. “Ini pencapaian positif, dibanding bulan Februari tahun 2025 lalu kita belum ada realisasi serapan, saat ini dibulan Februari kita sudah menyerap sebanyak 15 ribu ton gabah dan 5 ribu ton jagung, saya optimis target yang diamanahkan kepada kami bisa kita capai,” tegas Yonas.

Untuk mengantisipasi kendala kapasitas penyimpanan, Bulog Tulungagung juga telah menyiapkan gudang-gudang alternatif selain gudang induk. Langkah ini diambil untuk memastikan proses penyerapan tidak terhambat. “Jadi nanti tidak ada lagi kendala space penuh, atau serapan tersendat gara-gara kurang kapasitas gudang, semua kita antisipasi di awal, tentunya demi mendukung swasembada berkelanjutan,” urainya.

Program penyerapan ini disambut baik oleh petani. Nyono, salah satu petani di lokasi penyerapan, mengungkapkan harapannya. “Harapannya ini terus berlanjut dan kesejahteraan petani semakin baik dan petani semakin semangat menanam padi,” ungkap Nyono.