Perum Bulog mencatat serapan beras petani di Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga Mei 2026 telah mencapai 8.700 ton. Angka ini setara dengan total serapan Bulog sepanjang tahun 2025, menunjukkan peningkatan signifikan dalam upaya pengadaan pangan di wilayah tersebut.

Pimpinan Wilayah Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, di Palu pada Minggu (24/5/2026), menyatakan optimisme terhadap pencapaian target tahunan. “Target kami tahun ini sebesar 11.300 ton dan saat ini sudah tercapai 8.700 ton. Kami optimistis bisa memenuhi target lebih cepat,” ujar Jusri.

Pencapaian ini, menurut Jusri, merupakan hasil kolaborasi erat antara Bulog dengan para petani dan mitra penggilingan. Konsistensi dalam produksi serta peningkatan kualitas dan kuantitas gabah kering panen (GKP) dari petani menjadi faktor kunci. Penguatan jaringan kerja sama ini disebut sebagai salah satu pendorong utama peningkatan serapan beras dan gabah di Sulteng.

“Saya berharap sampai Juni nanti target 11.300 ton sudah bisa kami capai. Simpul-simpul pengadaan saat ini sudah mulai solid,” tambah Jusri, menyoroti kemitraan yang telah terjalin.

Bulog Sulteng telah memperluas jaringannya dengan sejumlah pelaku usaha di berbagai daerah. Di Kabupaten Donggala, terdapat tiga mitra aktif. Sementara itu, di Kabupaten Parigi Moutong, jumlah mitra mencapai enam. Jusri juga menyebut adanya tambahan dua hingga tiga mitra baru di wilayah Luwuk yang mulai berkontribusi dalam program pengadaan.

Adapun Kabupaten Tolitoli menjadi fokus akselerasi program penyerapan gabah baru bagi Bulog Sulteng. “Di Tolitoli memang masih terus kami akselerasi, karena ini program baru bagi Bulog Sulteng untuk penyerapan gabah. Namun sejauh ini progresnya cukup bagus,” jelasnya.

Peningkatan serapan beras domestik ini diharapkan dapat memperkuat cadangan pangan pemerintah, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di Sulawesi Tengah. “Konsistensi petani menjaga kualitas produksi paling penting, dengan harapan adanya cetak sawah baru produksi gabah petani semakin meningkat dalam menunjang swasembada pangan nasional,” pungkas Jusri.