Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, resmi mengakhiri operasional pos terpadu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Avolua dan sekitarnya. Keputusan ini diambil setelah eskalasi api di wilayah tersebut berhasil teratasi.

Meski demikian, status siaga darurat bencana di Parigi Moutong tetap berlanjut hingga 28 Februari 2026. Penetapan status ini mengikuti peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut Parigi Moutong masih berada dalam status waspada kekeringan meteorologis.

Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi penanggulangan karhutla. “Kami berterima kasih pada para pihak yang terlibat dalam operasi penanggulangan karhutla. Kondisi ini bisa teratasi berkat kerja sama tim di lapangan,” ujar Rivai di Parigi, Minggu (15/2/2026).

Rivai menjelaskan, kondisi anomali iklim akibat curah hujan di bawah normal dalam kurun waktu panjang saat musim kemarau memicu potensi karhutla yang sangat tinggi. “Sekitar 10 hari petugas berjibaku memadamkan api. Kerja keras mereka di lapangan membuahkan hasil positif,” tambahnya.

Data dari pemerintah kabupaten setempat menunjukkan, dampak karhutla di Parigi Moutong mencapai luas 149,2 hektare. BPBD mendesak para camat dan kepala desa untuk segera merampungkan pendataan lahan warga yang terdampak karhutla di Desa Toboli, Avolua, Uevolo, dan Tovera.

Dalam penanganan karhutla ini, posko terpadu melibatkan 334 personel. Mereka didukung oleh 12 unit kendaraan operasional, termasuk tiga mobil pemadam kebakaran dan sisanya mobil tangki suplai air. Selain itu, penanganan juga dibantu dengan 70 unit tangki semprot untuk pemadaman api.

BPBD menegaskan, pemantauan perkembangan di lapangan akan terus dilakukan mengingat potensi kebakaran masih cukup tinggi, terutama dipicu oleh kekurangan air. “Meski penanganan sudah selesai, pemantauan tetap dilakukan. Kami juga meminta masyarakat jangan melakukan pembakaran liar karena cuaca ekstrem dapat memicu eskalasi api lebih besar,” tutur Rivai.