Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) secara masif menggencarkan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di 38 kabupaten/kota. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serta kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana yang ada di wilayah mereka.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Deni Kiki Melia Tamara, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi BPBD Jatim. “Pembentukan Destana ini merupakan bagian dari upaya BPBD Jatim dalam meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di wilayahnya,” ujar Deni di Surabaya, Selasa (12/5).
Ia menambahkan, kesiapsiagaan menjadi prioritas utama di setiap lapisan masyarakat. Destana adalah salah satu bentuk langkah konkret dari pemerintah kepada masyarakat, untuk membangun komunitas yang siap siaga, tanggap, dan tangguh terhadap setiap ancaman bencana. Dengan adanya Destana, masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi ancaman bencana, siap dalam keadaan darurat, serta memiliki kemampuan untuk memulihkan diri dari dampak bencana yang merugikan.
Program Destana ini telah dimulai di wilayah Mataraman, mencakup Kabupaten Tulungagung, Magetan, Trenggalek, hingga Kabupaten dan Kota Madiun. Di Tulungagung, Destana dibentuk di Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, sementara di Magetan berpusat di Desa Jabung, Kecamatan Panekan.
Selanjutnya, di Trenggalek, pembentukan Destana menyasar Desa Timahan, Kecamatan Kampak. Di Kabupaten Madiun, Destana berlokasi di Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, dan di Kota Madiun, kegiatan serupa menyasar Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo. Pada Selasa (12/5), program ini bergeser ke Desa Genaharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, dan akan dilanjutkan pada Rabu (13/5) di Desa Tembeling, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro.
Dalam setiap pembentukan Destana, BPBD Jatim turut memberikan bantuan 100 bibit pohon produktif, seperti durian, alpukat, kelengkeng, dan jambu air. Bantuan bibit ini diharapkan dapat berfungsi sebagai mitigasi vegetatif sekaligus memberikan manfaat ekonomis bagi warga sekitar.
Para peserta Destana juga menerima beragam materi pelatihan, mulai dari pengenalan pentingnya Destana, Kajian Risiko Bencana, Rencana Penanggulangan Bencana, Rencana Aksi Komunitas, Standar Operasional Prosedur (SOP) Peringatan Dini dan Evakuasi, Rencana Kontingensi, hingga pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), serta pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Desa.
