Seorang bocah berusia 12 tahun berinisial DK, warga Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, kini dalam kondisi kritis setelah digigit ular weling berbisa. DK telah menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KHZ Musthafa selama 10 hari dan membutuhkan hingga 50 vial serum antivenom.

Kejadian nahas tersebut menimpa DK pada malam hari, 29 Maret 2026, saat ia tengah tidur di lantai rumah beralaskan tikar bersama ibu kandungnya. Awalnya, DK tidak mengeluh rasa sakit yang signifikan, sehingga orang tuanya membawanya ke tabib kampung.

Namun, kondisi DK memburuk dan tabib menyarankan agar segera dibawa ke rumah sakit. Siti Hindun, ibu kandung DK, menceritakan momen mengerikan tersebut.

“Anak tengah tidur ngampar di lantai dan berbicara ‘Mah (Bu) ada ular. Kami menuju Tabib Kampung dan disarankan dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, di perjalanan mengeluh sakit perut dan setibanya di RSUD KHZ Musthafa mengalami nyeri nelan, sesak napas, pingsan,” ujar Siti, Selasa (7/4/2026).

Direktur RSUD KHZ Musthafa, Eli Hendalia, menjelaskan bahwa kondisi DK sangat serius. Pasien mengalami pelemahan otot paru-paru akibat bisa ular, sehingga membutuhkan dosis antivenom yang jauh lebih tinggi dari kasus gigitan ular pada umumnya.

“Untuk stok serum antivenom menipis dan tim rumah sakit berusaha menempuh perjalanan bolak-balik Tasikmalaya menuju Bandung demi menjamin ketersediaan serum antivenom. Jika umumnya pasien membutuhkan 3-4 vial antivenom (anti bisa ular), kondisi anak ini mengalami pelemahan otot paru-paru dan sekarang (kebutuhan) penggunaan hingga 50 vial,” kata Eli.

Saat ini, penanganan medis DK dibantu oleh dokter spesialis toksinologi dari Bandung. Meskipun biaya pengobatan diperkirakan mencapai Rp200 juta dan DK terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, pihak rumah sakit menegaskan komitmennya untuk tidak menyerah pada birokrasi demi menyelamatkan jiwa pasien.

“Kami akan berusaha menyelamatkan jiwa seorang anak dan Insya Allah, rumah sakit berkomitmen akan cari solusi dana untuk menutupi kelebihan biaya demi membantu masyarakat,” tegas Eli.

Dukungan juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tasikmalaya. Ketua BAZNAS Kabupaten Tasikmalaya, Eddy Abdul Somadi, memastikan keluarga DK tidak berjuang sendiri. BAZNAS memberikan bantuan biaya hidup bagi orang tua selama mendampingi DK di rumah sakit, termasuk menyediakan tempat istirahat yang layak.

RSUD KHZ Musthafa juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di area persawahan. Penggunaan dipan saat tidur dan kelambu sangat disarankan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Kolaborasi antara keahlian medis RSUD KHZ Musthafa dan dukungan sosial dari BAZNAS terus diupayakan demi kesembuhan DK.