Sebuah banner bertuliskan ‘Shut Up KDM’ yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjadi sorotan publik setelah dibentangkan oleh suporter Bobotoh di tribun utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Jumat (24/4/2026) malam. Insiden tersebut terjadi saat laga panas antara Persib Bandung melawan Arema FC, memicu beragam spekulasi di kalangan penonton dan pemerhati sepak bola nasional.
Kemunculan tulisan tersebut pada babak kedua pertandingan sontak menimbulkan pertanyaan besar mengenai maksud di balik pesan yang secara eksplisit ditujukan kepada kepala daerah. Banyak pihak mempertanyakan alasan di balik ekspresi kekecewaan atau protes yang disampaikan Bobotoh melalui banner tersebut.
Menanggapi hal ini, Bobotoh sekaligus Sekretaris Umum Viking Persib Club (VPC), Arland Sidha, buka suara. Ia menuturkan bahwa kemunculan banner itu berangkat dari keresahan yang telah lama berkembang di kalangan suporter Persib.
“Pertama flashback dahulu, ada keresahan apa soal Persib? Sebenarnya kalau dilihat, Persib ini punya modal sosial yang tinggi, artinya modal sosial ini berupa suporter dan Bobotoh,” kata Arland saat dihubungi pada Minggu (26/4/2026).
Menurut Arland, keresahan tersebut muncul dari persepsi di kalangan Bobotoh terkait keterlibatan figur politik dalam dinamika klub Persib. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan anggapan bahwa klub kebanggaan Jawa Barat tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
“Saya pikir ada pemahaman di tengah-tengah Bobotoh, kehadiran sosok dalam tanda kutip elite politik atau kepala daerah, yang dipahami masyarakat bisa saja memiliki kepentingan tertentu, saya tidak tahu kepentingannya apa, mungkin terkait elektabilitas,” ujarnya.
Arland menegaskan bahwa tidak menjadi masalah ketika seorang tokoh politik memang sejak awal merupakan pendukung setia Persib. Namun, persoalan muncul ketika dukungan tersebut dinilai terlalu masuk ke ranah klub secara berlebihan, sehingga mengganggu independensi dan fokus tim.

