Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tegal mengungkapkan sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi korban penyalahgunaan obat keras. Obat-obatan berbahaya ini dilaporkan dijual bebas di warung-warung yang dikenal sebagai “warung Aceh”.

Kepala BNN Kota Tegal, Kunarto, menjelaskan bahwa sejak Januari hingga awal April 2026, total 35 orang telah menjadi korban penyalahgunaan obat keras di wilayah tersebut. Dari jumlah tersebut, 9 orang merupakan usia dewasa, sementara 26 lainnya berstatus pelajar.

Sebaran 26 pelajar yang menjadi korban meliputi 14 orang dari Kabupaten Brebes, 9 orang dari Kota Tegal, dan 3 orang dari Kabupaten Tegal. Kunarto menambahkan, pada Selasa (7/4) sore, lima pelajar diantar langsung oleh pihak sekolah beserta orang tua mereka untuk pendampingan terkait penyalahgunaan obat berbahaya.

“Hari ini, ada 5 pelajar yang diantar langsung oleh sekolah beserta orang tua masing-masing untuk dilakukan pendampingan terkait dengan penyalahgunaan obaya. Sebelumnya, juga sudah ada 11 pelajar dengan permasalahan yang sama,” ujar Kunarto, Selasa (7/4).

Ancaman Serius Peredaran Obat Ilegal

Kunarto menegaskan bahwa maraknya peredaran obat keras dan berbahaya ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Kota Tegal, Brebes, dan Kabupaten Tegal. Dampaknya tidak hanya merusak saraf, tetapi juga memengaruhi perspektif sosial dan kesehatan masyarakat.

“Karena dampaknya sangat nyata, tidak hanya merusak saraf tapi juga perspektif sosial maupun kesehatan masyarakat. Sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi masalah ini,” jelas Kunarto.

Respons Cepat Pemerintah dan Imbauan kepada Orang Tua

Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, mengapresiasi respons cepat BNN Kota Tegal dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kota Tegal dalam menindaklanjuti aduan serta mengatasi masalah ini.

“Mulai dari razia gabungan hingga penertiban dan pembongkaran warung warung yang diduga menjual obaya, kami juga terjun langsung melakukan pendampingan kepada orang tua dan korban obaya untuk dilakukan pembinaan dan rehabilitasi di BNN Kota Tegal,” ujar Tazkiyyatul.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, agar tidak takut untuk datang ke BNN dan mengakses layanan rehabilitasi. Tazkiyyatul menekankan pentingnya keterbukaan dan dukungan keluarga.

“Perlu ikatan yang kuat, perlu keterbukaan diantara mereka, terus dukung untuk menjadi lebih baik dan jangan sampai dihakimi. Masa depan anak-anak masih panjang, dengan pendampingan yang lebih intens akan memperkuat mental dan ketahanan diri anak dari anak dari pengaruh buruk lingkungan,” jelas Tazkiyyatul.