Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () mencatat lonjakan signifikan aktivitas seismik di Indonesia sepanjang . Total 1.789 kejadian gempa bumi terekam, didominasi oleh guncangan dengan magnitudo kecil dan kedalaman dangkal. Angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah paling aktif secara tektonik di dunia.

Dominasi Gempa Magnitudo Kecil dan Dangkal

Dari total hampir 1.800 gempa yang tercatat, mayoritas atau sekitar 90 persen memiliki magnitudo di bawah 3.0 Skala Richter. Gempa-gempa ini umumnya terjadi pada kedalaman dangkal, yakni kurang dari 60 kilometer di bawah permukaan bumi. Meskipun demikian, BMKG juga melaporkan sekitar 50 kejadian gempa yang dirasakan oleh masyarakat, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi atau yang berdekatan dengan pusat gempa.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa frekuensi tinggi ini merupakan karakteristik alami dari wilayah Indonesia. “Indonesia memang berada di ‘cincin api’ dan dikepung zona subduksi aktif. Peningkatan aktivitas ini adalah pengingat akan pentingnya mitigasi bencana,” ujar Daryono dalam konferensi pers virtual pada Jumat (20/2/2026).

Penyebab dan Wilayah Paling Aktif

Aktivitas seismik yang intens ini disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik utama: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Interaksi dan pergerakan lempeng-lempeng ini secara terus-menerus memicu pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi.

Data BMKG menunjukkan bahwa wilayah Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan sebagian Sumatera Barat menjadi daerah dengan frekuensi gempa paling tinggi selama Januari 2026. Beberapa titik di Pulau Jawa juga mencatat peningkatan aktivitas, meskipun dengan magnitudo yang relatif lebih kecil dan jarang menimbulkan dampak signifikan.

Imbauan Kesiapsiagaan Masyarakat

Meskipun sebagian besar gempa yang terjadi tidak merusak, BMKG terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Edukasi mengenai langkah-langkah evakuasi mandiri, pentingnya membangun struktur bangunan tahan gempa, serta pemahaman jalur evakuasi menjadi krusial.

“Masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap siaga. Kenali lingkungan sekitar, pahami cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi, dan pastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar keamanan gempa,” tambah Daryono. BMKG juga berkomitmen untuk terus memantau aktivitas seismik dan memberikan informasi terkini secara cepat dan akurat kepada publik.