Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo M 4,2 mengguncang wilayah Kuta Selatan, Bali, dan sebagian Lombok pada Senin, 23 Februari 2026, pukul 19.30 Wita. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak menimbulkan kerusakan dan tidak diikuti gempa susulan.

Analisis BMKG: Gempa Dangkal Akibat Subduksi Lempeng

Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 9,24° LS; 115,65° BT. Lokasi tepatnya berada di laut, sekitar 70 kilometer Tenggara Kuta Selatan, Bali, dengan kedalaman hiposenter 59 kilometer.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal. Fenomena ini terjadi akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. Mekanisme pergerakan sesar yang dominan adalah sesar naik (Thrust-Fault).

Guncangan Dirasakan di Berbagai Wilayah

Berdasarkan estimasi peta guncangan (Shakemap) dan laporan masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan guncangan yang dirasakan di beberapa wilayah. Area yang merasakan guncangan meliputi Kuta, Kuta Selatan, Klungkung, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Intensitas guncangan tercatat pada skala II MMI, yang berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Hingga saat ini, BMKG belum menerima laporan mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Sumawan menambahkan, “Hingga hari Senin, 23 Februari 2026 pukul 19.56.00 Wita, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock).”