Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan kepada masyarakat Kabupaten Nunukan, , untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem. Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung sepanjang Februari 2026 dan berpotensi berlanjut hingga awal Maret, ditandai dengan intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, serta gelombang laut yang membahayakan.

Kepala Stasiun Meteorologi Nunukan, Dwi Budi Sutrisno, menjelaskan bahwa pola cuaca di wilayah Nunukan dan sekitarnya menunjukkan peningkatan signifikan. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang, terutama di wilayah daratan,” ujar Dwi Budi Sutrisno pada Jumat, 20 Februari 2026.

Ancaman Gelombang Tinggi di Perairan

Selain ancaman di daratan, BMKG juga menyoroti kondisi perairan yang berpotensi sangat berbahaya. Gelombang tinggi diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah, termasuk Laut Sulawesi bagian timur dan Selat Makassar bagian selatan. Ketinggian gelombang di area tersebut diprediksi dapat mencapai 2,5 hingga 4,0 meter.

Kondisi ini sangat berisiko bagi aktivitas pelayaran, terutama bagi nelayan dan pengguna transportasi laut. “Nelayan dan operator kapal diimbau untuk tidak melaut atau menunda perjalanan jika kondisi gelombang tidak memungkinkan. Keselamatan adalah prioritas utama,” tambah Dwi Budi Sutrisno.

Dampak dan Langkah Mitigasi

Potensi cuaca ekstrem ini dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Di wilayah pesisir, ancaman banjir rob juga perlu diwaspadai akibat kombinasi gelombang tinggi dan pasang air laut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan telah menyiagakan personel dan peralatan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG secara berkala dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan, seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rapuh, serta menyiapkan rencana evakuasi jika tinggal di daerah rawan bencana. Perubahan iklim global disebut menjadi salah satu faktor pemicu peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Utara.