Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan mayoritas kota-kota besar di Indonesia berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Minggu, 8 Februari 2026. Di tengah prakiraan cuaca ini, BMKG turut menyoroti pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan kolaborasi lintas sektor untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi yang kian meningkat akibat perubahan iklim.

Prakiraan Hujan di Berbagai Wilayah

Untuk wilayah Sumatera, BMKG memprakirakan kota-kota besar seperti Medan, Pangkal Pinang, Palembang, dan Bengkulu berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang. Sementara itu, Pekanbaru, Jambi, dan Bandar Lampung diperkirakan akan mengalami hujan lebat disertai kilat. Adapun Aceh dan Padang diprediksi berawan.

Di Pulau Jawa, potensi hujan ringan hingga sedang diprakirakan merata di Banten, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Prakirawan BMKG Wahyu Anisa menjelaskan, “Untuk di Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang berpotensi merata terjadi di Banten, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Sementara Surabaya berpotensi hujan lebat.”

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain. Di Kalimantan, Palangkaraya dan Tanjung Selor berpotensi hujan ringan, sedangkan Samarinda dan Banjarmasin diprakirakan hujan lebat disertai kilat. Pontianak sendiri berawan tebal. Wahyu Anisa menambahkan, “Sementara Bali dan Kupang berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang. Mataram diselimuti awan.”

Untuk Pulau Sulawesi, hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, dan Ternate. Mamuju diprakirakan hujan lebat disertai kilat, sementara Palu cuaca kabur. Berpindah ke wilayah paling timur Indonesia, kota-kota seperti Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Nabire, Jayawijaya, dan Merauke diprakirakan diguyur hujan ringan hingga sedang.

Ancaman Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menegaskan bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata. Laporan State of the Global Climate 2024 dari World Meteorological Organization (WMO) mencatat tahun 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan anomali suhu global telah melampaui ambang batas 1,5°C dibandingkan periode praindustri.

Andri Ramdhani menyoroti tren ini. “Data observasi menunjukkan tren kenaikan suhu yang konsisten, baik secara global maupun regional di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

Data BMKG dalam kurun waktu 16 tahun terakhir (2010–2025) menunjukkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang terus meningkat, seiring dengan tren kenaikan suhu dan perubahan iklim. Wilayah dengan tingkat kejadian tertinggi tercatat di Jawa Barat, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, serta sejumlah wilayah lain di Sumatra.

BMKG menekankan bahwa penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor sangat krusial guna menekan risiko bencana hidrometeorologi di tengah kondisi iklim global yang terus berubah.