Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () Stasiun Pekanbaru mengumumkan penurunan signifikan jumlah atau hotspot di Provinsi pada awal tahun 2026. Data terbaru menunjukkan penurunan drastis hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebuah indikator positif dalam upaya pencegahan (Karhutla).

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Ramlan, menjelaskan bahwa sepanjang Januari hingga pertengahan Februari 2026, hanya terdeteksi 15 titik panas di seluruh wilayah Riau. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan 75 titik panas yang tercatat pada periode serupa di tahun 2025. Penurunan ini, menurut Ramlan, disebabkan oleh intensitas curah hujan yang cukup tinggi di sebagian besar wilayah Riau, serta kesiapsiagaan tim pencegahan Karhutla di lapangan.

Pemerintah Riau Apresiasi dan Ingatkan Kewaspadaan

Gubernur Riau, Syamsuar, menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, dan Polri dalam menekan angka Karhutla melalui patroli darat dan udara yang intensif. Namun, ia juga mengingatkan seluruh pihak untuk tidak lengah, mengingat adanya prediksi BMKG mengenai potensi kemarau panjang yang bisa terjadi di pertengahan tahun.

“Kita tidak boleh lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, ancaman Karhutla selalu ada, terutama saat musim kemarau tiba,” tegas Syamsuar. Pernyataan ini menekankan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan dan persiapan mitigasi yang matang.

Kualitas Udara Membaik dan Kesiapan Teknologi Modifikasi Cuaca

Dampak positif dari minimnya Karhutla dan titik panas ini juga tercermin pada kualitas udara di Riau. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Riau melaporkan bahwa Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di beberapa kota besar seperti Pekanbaru dan Dumai berada pada kategori “Baik” hingga “Sedang”, menunjukkan kondisi udara yang sehat bagi masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Persiapan ini dilakukan untuk memastikan Riau siap menghadapi kemungkinan kemarau yang lebih awal atau lebih parah dari perkiraan, guna mencegah terulangnya bencana asap akibat Karhutla.