Setelah enam hari pencarian intensif, tim SAR gabungan berhasil menemukan kedua kotak hitam atau black box pesawat ATR 42-500 PK-THT yang jatuh di Bulusaraung, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Penemuan krusial ini menjadi titik terang untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mengangkut 10 orang dalam rute Yogyakarta-Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Kedua perangkat penting, yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), secara resmi diserahterimakan dari Basarnas kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada Kamis (22/1).
Basarnas Apresiasi Kerja Keras Tim SAR
Kepala Basarnas, Letjen TNI Muhammad Syafii, menegaskan pentingnya penemuan ini dalam proses investigasi. “Alhamdulillah pada hari ke-5, tim SAR gabungan telah menemukan black box dari pesawat. Penemuan ini merupakan tahapan krusial untuk mendukung proses investigasi,” ujar Syafii dalam acara serah terima di Makassar.
Syafii menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh personel TNI, Polri, dan relawan yang telah berjuang di medan berat. Meskipun black box telah ditemukan, operasi SAR untuk pencarian dan evakuasi korban tetap berlanjut. “Kita akan evaluasi pada hari ke-7. Keputusan perpanjangan operasi akan kami sampaikan kemudian,” tambahnya.
KNKT Segera Analisis Data Akurat
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa analisis terhadap kedua perangkat tersebut akan segera dilakukan. Ia menjelaskan peran vital masing-masing black box. CVR, menurutnya, merekam empat kanal suara, meliputi komunikasi pilot dengan Menara Lalu Lintas Udara (ATC), percakapan antar pilot di kokpit, komunikasi kokpit ke kabin, serta semua suara di dalam kokpit.
Sementara itu, FDR mencatat sekitar 88 parameter data penerbangan, seperti ketinggian, kecepatan, dan posisi pesawat. “Dengan data dari FDR dan CVR, kita tidak bekerja berdasarkan kira-kira. Kita akan ungkap penyebabnya dengan tepat berdasarkan data akurat,” papar Soerjanto di hadapan Wakil Menteri Perhubungan, Gubernur Sulsel, dan pejabat lainnya.
Soerjanto juga meluruskan istilah black box yang sebenarnya berwarna jingga terang agar mudah ditemukan di lokasi reruntuhan. “Disebut black box karena sebelum dibuka, datanya ‘gelap’ atau belum kita ketahui,” jelasnya.
Tujuan utama investigasi ini, lanjut Soerjanto, adalah untuk lesson learned atau pembelajaran. “Kita ingin belajar dari kejadian ini agar kecelakaan serupa tidak terulang. KNKT akan terbitkan laporan investigasi dan rekomendasi perbaikan keselamatan,” katanya. Rekomendasi mendesak bahkan bisa dikeluarkan sebelum laporan akhir selesai jika memang diperlukan.
Soerjanto mengakui sempat pesimistis black box dapat ditemukan mengingat kondisi medan yang ekstrem. “Kondisi lokasi sangat ekstrem. Alhamdulillah, berkat doa dan kerja keras tim SAR, kedua black box ini berhasil ditemukan,” akunya.
