Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan swasembada pasokan bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan dengan mengembangkan industri unggas terintegrasi di Kabupaten Sumbawa. Langkah strategis ini bertujuan mengakhiri ketergantungan daerah terhadap pasokan dari luar, yang selama ini didominasi industri besar.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa dominasi industri luar daerah yang menguasai hulu hingga hilir telah menimbulkan berbagai persoalan bagi sektor peternakan lokal. “Dengan kehadiran industri ayam terintegrasi, kami ingin mengakhiri ketergantungan dari luar daerah sekaligus memperkuat ekonomi NTB,” ujar Iqbal di Mataram, Jumat (6/2/2026).
Iqbal menjelaskan, ketergantungan pasokan bibit ayam dan pakan dari luar daerah membuat peternak lokal rentan terhadap fluktuasi harga, keterbatasan pasokan, serta posisi tawar yang lemah di pasar. Ia menambahkan, program pembangunan industri unggas terintegrasi ini menjadi jawaban atas peningkatan kebutuhan pangan yang melonjak berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Permintaan sudah ada dan sangat besar. Sekarang tugas kami memastikan pasokan cukup agar tidak terjadi inflasi. Karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat produksi,” kata Iqbal.
Untuk mendukung program ini, Pemerintah NTB menyiapkan skema pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 3 persen yang disubsidi khusus bagi sektor peternakan pendukung MBG. NTB, sebagai produsen jagung terbesar ketiga nasional, memiliki keunggulan bahan baku pakan, di mana jagung menyumbang sekitar 50 persen komposisi pakan unggas.
Pemerintah NTB juga mendorong riset formulasi pakan berbasis sumber protein lokal, seperti kelor dan magot, guna mengurangi ketergantungan impor bungkil kedelai. “Kami ingin pakan 100 persen berbasis bahan baku NTB. Tidak ada lagi jagung kirim keluar, lalu kembali ke NTB dalam bentuk pakan dengan harga berlipat,” tegas Iqbal.
Sebagai wujud komitmen, pembangunan industri ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir secara resmi dimulai dengan peletakan batu pertama di Kabupaten Sumbawa pada 6 Februari 2026. Program strategis ini merupakan gagasan Kementerian Pertanian bersama Danantara Indonesia dan BUMN Pangan, didukung pendanaan nasional. Inisiatif industri ayam terintegrasi ini diharapkan dapat membangun ekosistem perunggasan nasional di luar Pulau Jawa sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
