Bank Indonesia (BI) Perwakilan Purwokerto meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan inflasi menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Peringatan ini disampaikan meskipun wilayah Banyumas Raya, yang mencakup Purwokerto dan Cilacap, baru saja mengalami deflasi pada Januari 2026.
Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Mahdi Abdillah, menjelaskan bahwa pola musiman kenaikan permintaan bahan pangan selalu terjadi saat hari besar keagamaan nasional. Oleh karena itu, langkah antisipatif sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.
Menjelang Ramadan dan Idulfitri, permintaan biasanya meningkat. Karena itu, TPID akan memperkuat berbagai upaya pengendalian agar pasokan tetap terjaga dan harga terkendali,” kata Mahdi pada Rabu (4/2).
Strategi Pengendalian Inflasi dari Hulu hingga Distribusi
Mahdi memaparkan, strategi pengendalian inflasi akan difokuskan secara komprehensif, mulai dari sisi hulu hingga distribusi. BI Purwokerto mendorong peningkatan produksi pangan melalui berbagai program.
- Pengembangan pesantren berbasis pertanian.
- Pembinaan petani milenial.
- Perluasan digital farming.
“Kami mendorong peningkatan produksi pangan, termasuk melalui pengembangan pesantren berbasis pertanian, pembinaan petani milenial, dan perluasan digital farming,” ujarnya.
Selain itu, intervensi pasar juga akan diperkuat. “Operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah akan diintensifkan. Kerja sama antar daerah juga terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan komoditas strategis,” tambah Mahdi.
Deflasi Januari 2026 di Banyumas Raya
Peringatan ini muncul di tengah kondisi inflasi Banyumas Raya yang relatif terkendali pada awal tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah ini, yaitu Purwokerto dan Cilacap, justru mengalami deflasi pada Januari 2026.
- Kota Purwokerto mencatat deflasi bulanan 0,36 persen dengan inflasi tahunan 2,79 persen.
- Kota Cilacap mengalami deflasi 0,42 persen secara bulanan dan inflasi tahunan 2,63 persen.
“Secara tahunan, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 plus minus 1 persen,” jelas Mahdi.
Mahdi menjelaskan, deflasi pada Januari terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan. “Setelah periode Natal dan Tahun Baru, permintaan masyarakat menurun. Di sisi lain, pasokan hortikultura dari sentra produksi meningkat, sehingga harga sejumlah komoditas terkoreksi,” terangnya.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi di Purwokerto dan Cilacap meliputi daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras. “Di Purwokerto, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras. Di Cilacap, komoditas yang sama juga menjadi penyumbang utama deflasi,” ungkapnya.
Meski demikian, Mahdi mengakui bahwa kenaikan harga emas perhiasan dan beberapa komoditas nonpangan menjadi faktor penahan deflasi agar tidak lebih dalam.
Sinergi TPID Jaga Stabilitas Harga
Mahdi menegaskan, inflasi yang tetap terkendali tidak lepas dari sinergi kuat antara BI dan TPID. Berbagai upaya telah dilakukan secara rutin.
- Penyelenggaraan pasar murah.
- Penguatan koordinasi stabilisasi pasokan pangan.
- Intensifikasi komunikasi publik agar masyarakat berbelanja secara bijak.
“Kami rutin menggelar pasar murah, memperkuat koordinasi stabilisasi pasokan pangan, serta mengintensifkan komunikasi publik agar masyarakat berbelanja secara bijak. Dari sisi distribusi, kelancaran terus dijaga. Salah satunya melalui toko tani mingguan yang mempersingkat rantai pasok dari petani ke konsumen,” paparnya.
Ke depan, BI Purwokerto memastikan koordinasi akan terus diperkuat dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. “Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar inflasi Banyumas Raya tetap berada dalam kisaran sasaran nasional, terutama saat permintaan meningkat di Ramadan dan Idulfitri,” pungkas Mahdi.
