Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meresmikan 27 Sentra Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Peresmian ini, termasuk di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dilakukan pada Selasa (14/4/2026) kemarin, menandai langkah signifikan dalam upaya peningkatan gizi masyarakat.

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan bahwa dengan penambahan ini, total SPPG di bawah naungan PBNU yang telah beroperasi mencapai lebih dari 250 titik. “Alhamdulillah sekarang total sudah ada lebih dari 250 SPBG yang sudah beroperasi, sudah berjalan,” ujar Yahya Staquf di sela-sela peresmian.

Akselerasi Dapur Gizi di Pondok Pesantren Lirboyo

Secara khusus, Pondok Pesantren Lirboyo yang memiliki 52.000 santri, saat ini baru memiliki dua SPPG yang aktif. PBNU dan BGN menargetkan penambahan signifikan di Lirboyo, dengan harapan bisa mencapai 15 hingga 20 SPPG lagi.

“Sekarang baru ada dua SPPG yang sudah jalan (di Ponpes Lirboyo). Ya, tadi kita bicara dengan wakil kepala BGN, beliau mengatakan kita coba dorong akselerasi kalau bisa enam SPPG. Mudah-mudahan setelah itu akan bertambah lagi,” jelas Yahya Staquf, menekankan pentingnya percepatan program di pondok pesantren besar tersebut.

Komitmen besar NU untuk membangun 1.000 dapur layanan gizi hingga tahun 2025 juga ditegaskan oleh Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) Program MBG, KH. Fahmy Akbar Idries. “Ketika NU memberikan komitmen untuk membangun 1.000 dapur, maka per hari ini sudah ada 254 yang sudah beroperasi. Jadi sudah beroperasi kalau 3.000 penerima manfaat tinggal dikalikan saja jumlahnya,” kata KH. Fahmy.

Kolaborasi Strategis untuk Kemandirian Ekonomi

Dalam kesempatan yang sama, program ini juga membangun kolaborasi strategis dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sektor industri keuangan. Kolaborasi ini bertujuan membuka akses permodalan, termasuk peluang investasi dan refinancing melalui kegiatan business matching.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menyoroti bahwa program SPPG di Lirboyo tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. “Terus tadi ada event tadi bisnis matching ya, di mana produk-produk masyarakat, kemudian ada pembiayaannya. Ada bank-bank yang melakukan pembiayaan, kemudian kegiatan-kegiatan masyarakat didukung oleh pembiayaan bank tersebut, hasilnya kemudian diserap oleh SPPG. Nah, ini ini yang dibutuhkan. Jadi bukan hanya memberikan makanan, tetapi bagaimana, apa namanya, kegiatan-kegiatan masyarakat yang mengakibatkan perekonomian masyarakat meningkat,” terang Sony Sonjaya.

Program MBG yang digagas bersama ini diharapkan terus berkembang sebagai solusi komprehensif. Tujuannya tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial berbasis komunitas.