Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga bahan pangan pokok di Pasar Kebon Roek, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, relatif stabil. Kepastian ini disampaikan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri 2026.

Jaminan stabilitas harga tersebut merupakan hasil pemantauan harga dan mutu pangan yang dilakukan Bapanas pada Rabu (4/2). Kegiatan ini melibatkan Perum Bulog Kantor Wilayah NTB, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda NTB, serta organisasi perangkat daerah terkait.

Komoditas Pangan Utama Terkendali

Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menyatakan bahwa sebagian besar komoditas pangan utama masih dalam kondisi harga yang terkendali. “Hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar komoditas pangan utama masih berada dalam kondisi harga yang terkendali,” kata Rinna Syawal.

Ia merinci, komoditas seperti beras, gula, minyak goreng, telur ayam ras, bawang putih, dan bawang merah secara umum tidak mengalami lonjakan harga yang signifikan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan kecil di tingkat pedagang, terutama pada komoditas minyak goreng.

Variasi harga paling terlihat pada Minyak Kita, produk minyak goreng yang telah ditetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET). Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh sumber pasokan yang diterima pedagang.

Menurut Rinna, minyak goreng yang disalurkan melalui Bulog dijual sesuai ketentuan HET. Namun, pasokan dari distributor non-Bulog di beberapa titik ditemukan sedikit di atas harga acuan. “Untuk menjaga stabilitas harga, Bapanas telah membentuk Satuan Tugas Pengawasan Harga Pangan yang bertugas menelusuri rantai distribusi dari distributor hingga produsen apabila diperlukan,” ujarnya.

Pengawasan Terpadu dan Ketersediaan Stok

Direktur Direskrimsus Polda NTB, Kombes Pol FX Endriadi, menegaskan bahwa pengawasan harga dan mutu pangan dilakukan secara terpadu. Hal ini merupakan bagian dari program nasional melalui Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan.

Satgas tersebut menjalankan deteksi dini dengan mencocokkan data distribusi dan harga dengan kondisi riil di lapangan. Prosedur penanganan pelanggaran juga telah ditetapkan, mulai dari pembinaan hingga penegakan hukum.

Sementara itu, Perum Bulog Kantor Wilayah NTB memastikan ketersediaan stok pangan strategis dalam kondisi aman. Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, menyatakan bahwa Bulog saat ini menguasai stok beras sekitar 154 ribu ton. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 10 bulan ke depan.

Selain beras, Bulog NTB juga memiliki cadangan minyak goreng sekitar 307 ribu liter yang dinilai mencukupi hingga Maret 2026. “Bulog bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di NTB,” kata Mara Kamin Siregar.