Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) memfasilitasi kerja sama pasokan cabai rawit antar-daerah. Langkah ini diambil guna menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan potensi lonjakan harga selama periode Ramadan dan Lebaran 2026 di wilayah tersebut.
Kepala BI Wilayah NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menjelaskan bahwa pihaknya menghubungkan kelompok tani di daerah sentra produksi dengan pihak pembeli di wilayah yang memiliki permintaan tinggi. “Pada awal Ramadhan, pasokan hasil panen di NTB tidak mencukupi terhadap permintaan masyarakat. Demand lebih tinggi dari supply,” ucap Hario dalam pernyataannya di Mataram, Sabtu.
Hario mengungkapkan, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan berpotensi mendorong kenaikan harga jika tidak diantisipasi melalui penguatan distribusi dan penambahan pasokan. Oleh karena itu, Bank Indonesia melakukan penyisiran terhadap klaster pertanian binaan yang tersebar di sejumlah wilayah untuk memastikan potensi panen cabai rawit selama Ramadan 2026.
Hasilnya, dua klaster pertanian binaan BI di Lombok Utara dan Lombok Tengah masih mampu melakukan panen cabai rawit, meskipun dalam kondisi cuaca yang didominasi hujan. “Hasil panen Lombok Utara tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga Lombok Utara saja, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di Mataram,” kata Hario.
Selain memfasilitasi kerja sama pasokan di dalam wilayah NTB, Bank Indonesia juga mendorong penambahan pasokan dari luar daerah. Hal ini dilakukan agar stok cabai rawit dapat mencukupi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
Badan Pangan Nasional, bersama Satgas Saber Pangan dan Pemerintah Lombok Tengah, telah mendatangkan 1,18 ton cabai rawit dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada pekan lalu. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur juga akan mendatangkan cabai sebanyak 1 ton untuk memperkuat stok.
Biaya distribusi untuk mendatangkan cabai rawit dari Sulawesi Selatan maupun daerah lain ke Nusa Tenggara Barat sepenuhnya ditanggung oleh Badan Pangan Nasional. Ini merupakan bagian dari fasilitas distribusi pangan berupa penguatan pasokan.
Lebih lanjut, Hario mengimbau masyarakat untuk menerapkan belanja bijak dan konsumsi wajar. Tujuannya adalah untuk menghindari lonjakan permintaan yang tidak perlu selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026. “Kalau kita semua bisa belanja secara bijak dan konsumsi secara wajar, mudah-mudahan kita bisa berkontribusi terhadap pengendalian harga pangan di NTB,” pungkasnya.
