Banjir parah masih merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, hingga Minggu (5/4/2026). Data terkini mencatat 1.230 rumah terendam dan 1.070 keluarga atau sekitar 4.280 jiwa terdampak. Bencana ini juga telah menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Kondisi paling parah dilaporkan terjadi di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Banjir yang terjadi sejak Jumat (3/4) siang ini disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik.
Dampak dan Evakuasi
Pemantauan di lapangan menunjukkan, banjir melanda delapan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Ketinggian air masih mencapai 1 hingga 1,5 meter di sejumlah permukiman, memaksa warga bertahan di pengungsian.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Agus Sukiyono, merinci dampak bencana ini. “Berdasarkan data 1.230 rumah terendam banjir dan 1.070 kepala keluarga atau 4.280 jiwa terdampak,” kata Agus pada Minggu (5/4).
Delapan desa yang terendam meliputi Trimulyo, Sidoharjo, Turirejo, Sumberejo, Ploso, Lempuyang, Solowire, dan Sarimulyo. Selain rumah warga, banjir juga merendam 10 fasilitas pendidikan dan 15 fasilitas ibadah. Kerugian akibat banjir ini diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Tim gabungan dari BPBD, Polri, TNI, PMI, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga relawan telah bergerak cepat melakukan evakuasi. Saat ini, tercatat 2.839 warga masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian. Selain itu, dua korban jiwa ditemukan terseret arus banjir.
Setelah evakuasi, fokus penanganan selanjutnya adalah pendistribusian bantuan logistik bagi warga di pengungsian maupun yang bertahan di rumah. “Gubernur Jawa Tengah yang sempat meninjau menjamin kebutuhan dasar korban banjir,” imbuh Agus Sukiyono.
Penanganan Tanggul Darurat dan Permanen
Jebolnya tanggul Sungai Tuntang sepanjang 10-50 meter di Desa Trimulyo dan Sidorejo, Kecamatan Guntur, masih terbuka, menyebabkan air terus mengalir ke permukiman dan ratusan hektare sawah. Intensitas hujan tinggi di daerah hulu, Kabupaten Semarang, juga memperparah kondisi.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Andi Sofyan, menjelaskan upaya penanganan darurat. “Kita tangani secara darurat dulu agar air sungai tidak masuk ke pemukiman penduduk, baru nanti kita perbaiki secara permanen,” ujarnya.
Penanganan darurat dilakukan dengan memasangkan pagar trucuk dan penimbunan tanah di lokasi jebol menggunakan alat berat. Untuk perbaikan permanen, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp50 miliar, namun saat ini masih dalam tahap proses lelang.
Andi Sofyan menambahkan bahwa tanggul Sungai Tuntang tergolong rawan karena sebagian besar masih berupa tanah.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan banjir di Demak tidak bisa lagi bersifat darurat. Ia menekankan pentingnya pembenahan tanggul Sungai Tuntang secara komprehensif dari hulu hingga hilir. “Kami langsung gelar koordinasi dengan kementerian masalah penanganan banjir Demak secara komprehensif,” imbuhnya.
