Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor masih melanda sejumlah daerah di jalur Pantura Jawa Tengah hingga Sabtu (24/1/2026). Cuaca ekstrem yang terjadi sejak Jumat (23/1/2026) menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan sejumlah infrastruktur rusak.

Dampak Bencana Hidrometeorologi di Pantura Jawa Tengah

Pemantauan Media Indonesia pada Sabtu (24/1/2026) menunjukkan, banjir masih merendam beberapa wilayah di Pantura Jawa Tengah, meliputi Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, dan Pati. Ketinggian air bervariasi antara 30 hingga 150 sentimeter, memaksa ribuan warga bertahan di lokasi pengungsian.

Di Kabupaten Pekalongan, bencana banjir merendam 29 desa, berdampak pada 18.903 keluarga atau 59.729 jiwa. Sebanyak 11.582 rumah terendam, dengan 284 keluarga atau 856 jiwa saat ini berada di pengungsian.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, menegaskan, “Penanganan terus dilakukan karena cuaca ekstrem masih terus berlangsung hingga saat ini.”

Sementara itu, di Kota Pekalongan, banjir berdampak pada 35.993 keluarga. Sebanyak 14.397 rumah masih tergenang air dengan ketinggian bervariasi, dan 2.242 jiwa bertahan di 27 titik lokasi pengungsian.

Kabupaten Kudus juga menghadapi situasi serupa. Banjir masih merendam 38 desa di sembilan kecamatan, mengakibatkan 10.060 rumah warga terendam dan 22.503 keluarga atau 70.543 jiwa terdampak. Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengungkapkan, “Jumlah pengungsi akibat bencana banjir yang sudah hampir dua pekan merendam daerah ini mencapai 2.467 jiwa tersebar di belasan tempat pengungsian.” Ia menambahkan, banjir yang sempat surut kini kembali meningkat akibat cuaca ekstrem.

Di Kota Semarang, hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir juga menyebabkan sejumlah kawasan terendam banjir. Ruas jalan seperti Ngablak, Genuk, Gayamsari, dan Semarang Utara dilaporkan terendam, menyulitkan aktivitas warga.

Selain banjir, bencana tanah longsor juga kembali melanda sejumlah daerah akibat cuaca ekstrem. Wilayah yang terdampak meliputi Tegal, Pekalongan, Batang, Kendal, dan Semarang. Longsoran material menyebabkan sejumlah ruas jalan terputus dan merusak infrastruktur serta rumah warga.

Camat Petungkriyono, Hadi Surono, melaporkan intensitas longsor di wilayahnya. “Longsor di sini sudah 30 kali terjadi dalam 2 hari, hingga menutup ruang jalan, bahkan longsor dari Bukit Gunung Beser Petungkriono terjadi beberapa kali dalam sehari,” ujarnya.

Bencana serupa juga menimpa Dukuh Krompeng, Desa Krompeng, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan. Longsor di lokasi ini bahkan membuat warga berhamburan menyelamatkan diri karena ancaman tertimpa material longsoran yang dekat dengan permukiman. Camat Talun, Argo Yudho Utomo, menyatakan, “Saat ini, kami bersama tim gabungan BPBD, TNI, Polr dan relawan masih berupaya membersihkan material itu.”