Keterbatasan akses air bersih dan tingginya risiko kebakaran masih menjadi persoalan serius yang dihadapi Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) meluncurkan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada pemberdayaan tata kelola air bersih berbasis komunitas serta mitigasi kebakaran.
Program yang dilaksanakan pada Kamis (18/12) ini dirancang untuk memperkuat infrastruktur dasar dan meningkatkan ketahanan permukiman adat melalui partisipasi aktif masyarakat. Kampung Adat Kuta, yang dikenal dengan rumah tradisional berbahan kayu dan ijuk, memiliki kerentanan tinggi terhadap bahaya api, sementara akses air bersih yang layak belum merata bagi seluruh rumah tangga.
Membangun Sistem Sosial dan Fisik
Ketua Tim PKM Unisba, Ivan Chofyan, menjelaskan bahwa dari 109 kepala keluarga (KK) di Kampung Adat Kuta, sebelumnya hanya sekitar 15 KK yang memiliki akses langsung terhadap air bersih melalui jaringan distribusi. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya kelembagaan pengelola air yang bertanggung jawab atas operasional dan pemeliharaan infrastruktur.
“Melalui program ini, kami tidak hanya membangun fisik infrastruktur, tetapi juga membangun sistem sosialnya. Kunci keberlanjutan ada pada kelembagaan masyarakat,” tutur Ivan Chofyan.
Kearifan Lokal dan Tanggung Jawab Kolektif
Tokoh adat Kampung Adat Kuta, Firman Khabibi, menyambut baik program pengabdian ini, menyatakan bahwa inisiatif tersebut selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal yang dijaga masyarakat adat, khususnya dalam menjaga relasi antara manusia dan alam.
“Bagi kami masyarakat adat, air bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi bagian dari amanah yang harus dijaga bersama. Kehadiran program ini membantu warga memahami bahwa menjaga air dan keselamatan kampung adalah tanggung jawab kolektif, sejalan dengan nilai adat dan gotong royong yang kami pegang,” jelas Firman.
Firman juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pembentukan kelembagaan pengelola air untuk keberlanjutan Kampung Adat Kuta sebagai kawasan hunian dan desa wisata. “Kami berharap sistem yang dibangun ini tidak hanya bertahan selama program berlangsung, tetapi benar-benar dikelola oleh warga secara mandiri. Dengan adanya kelompok pengelola air dan kesiapsiagaan kebakaran, kampung adat menjadi lebih aman, tertata, dan siap menerima tamu tanpa meninggalkan jati diri adat,” tandasnya.
Capaian dan Dampak Nyata Program
Salah satu capaian utama PKM ini adalah pembentukan Kelompok Pengelola Air Bersih (KPA) berbasis komunitas adat. Kelompok ini kini bertanggung jawab mengatur distribusi air, memelihara jaringan pipa, hingga mengelola iuran secara transparan. “Melalui perbaikan dan perluasan jaringan perpipaan, jumlah rumah tangga yang memperoleh akses air bersih dari yang ditargetkan meningkat menjadi 30 rumah dan setelah dilaksanakan kegiatan PKM ini, sudah mencampai target yaitu 45 rumah yang terpasang,” terang Firman.
Selain itu, program ini juga menghadirkan dua unit hidran sederhana yang dipasang di titik rawan kebakaran. Sistem hidran dirancang adaptif dengan kondisi kampung adat, memanfaatkan sumber mata air dan sistem gravitasi tanpa ketergantungan listrik.
Anggota tim PKM, Imam Indratno dan Rabiatul Adwiyah, menyoroti pentingnya edukasi dan pelatihan kepada warga. “Kami memberikan pelatihan pengelolaan air bersih, konservasi air, serta simulasi tanggap darurat kebakaran. Tujuannya agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan dan rasa memiliki terhadap sistem yang dibangun,” bebernya. Sebanyak 30 warga, termasuk ibu rumah tangga dan pemuda kampung, terlibat aktif dalam pelatihan dan simulasi kebakaran, sebagai upaya membangun kesadaran lintas kelompok.
Mendukung Desa Wisata Berkelanjutan
Program PKM ini merupakan bagian dari rangkaian riset Unisba sejak 2020 yang mengkaji Kampung Adat Kuta sebagai desa wisata berbasis budaya, spiritualitas, dan ekologi. Penyediaan air bersih dan sistem proteksi kebakaran dinilai sebagai prasyarat penting bagi pengembangan desa wisata yang aman dan berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan pembangunan, kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDG 11 (Permukiman Berkelanjutan). Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Indonesia Emas 2045 pada pilar peningkatan kualitas manusia dan ketahanan bencana.
Pemerintah desa dan tokoh adat menyambut positif kegiatan ini, berharap model pengelolaan berbasis komunitas dapat direplikasi ke kampung adat lain di wilayah Priangan Timur. Ke depan, Unisba berkomitmen melanjutkan pendampingan dan menjadikan Kampung Adat Kuta sebagai model desa wisata adat yang tangguh, aman, dan berkelanjutan, berbasis kearifan lokal dan kolaborasi akademisi serta masyarakat.
