SD Negeri 11 Linge di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kehilangan sejumlah aset pentingnya pasca-banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025. Ratusan lembar atap seng, instalasi listrik, hingga fasilitas pendukung lainnya dilaporkan raib dari gedung sekolah yang sempat terendam banjir.

Menurut penelusuran, atap seng spandek berkualitas yang baru terpasang dua tahun lalu dan tidak terendam banjir, kini telah hilang. Selain itu, daun pintu, jendela, plafon, sebagian rangka kayu, bola lampu, kabel listrik, dan beberapa bangku juga ikut lenyap dari enam ruang kelas, satu ruang kantor guru, dan satu gudang barang.

Kepala SDN 11 Linge, Zupariah, mengungkapkan kekecewaannya atas insiden ini. “Padahal sebelumnya sekitar dua pekan pascabanjir, yakni pada 5 Desember 2026, kondisi gedung sudah saya laporkan tertulis ke Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah. Ternyata sebulan kemudian pada 6 Januari 2026, semua bahan gedung yang masih bisa digunakan termasuk fasilitas pendukung lainnya sudah hilang. Kami guru walau tidak sanggup mencegah, tapi tidak mau berkoordinasi aset itu dibongkar,” ujarnya.

Muhammad Aditya Ibnu Salim, seorang Relawan Mahasiswa UGM Mengajar yang ikut membantu proses belajar mengajar di SD Negeri 11 Linge, menyebutkan bahwa pembongkaran aset dilakukan oleh sekelompok orang berseragam. Kelompok tersebut, termasuk “orang nomor wahid di pemerintahan tingkat kampung dan pemimpin adat Mukim,” beraksi pada siang hari seperti tidak merasa bersalah.

Mereka beralasan tindakan tersebut dilakukan untuk membersihkan area sesuai arahan pemerintah yang lebih tinggi. Padahal, material bangunan dari enam ruang kelas, satu ruang kantor guru, dan satu gudang yang masing-masing berukuran 8×7 meter itu masih layak pakai dan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membangun ruang belajar sementara bagi siswa korban banjir.

Saat ini, siswa di lokasi tersebut masih harus belajar di tenda darurat dengan kondisi cuaca panas, setelah rumah dan bangunan sekolah mereka porak-poranda serta tertimbun lumpur hingga 3 meter akibat bencana. Ke-12 relawan UGM yang bergabung dengan Yayasan Sukma berharap pemerintah segera memulihkan dunia pendidikan di pedalaman Linge dan lokasi banjir Sumatra lainnya.

Mereka juga mendesak aparat penegak hukum untuk menindak tegas pihak-pihak yang mengambil keuntungan di tengah penderitaan masyarakat. “Sudah cukup tercabik-cabik alam pendidikan para generasi yang masih polos itu. Kalau tidak sanggup maembantu, jangan lagi menganggu fasilitas perjuangan masa depan mereka,” tegas Muhammad Aditya, mahasiswa semester VI Fisipol UGM asal Purwokerto itu.