Negara-negara anggota ASEAN tengah mempercepat proses ratifikasi kesepakatan keamanan pasokan minyak bumi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Menteri Perdagangan Filipina, Cristina Roque, menyatakan bahwa ASEAN secara aktif mendorong ratifikasi ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA). Kesepakatan ini dirancang untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tangguh bagi negara-negara di Asia Tenggara.
Di bawah kerangka APSA, negara-negara anggota ASEAN memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan langkah-langkah darurat yang terkoordinasi. Ini termasuk mekanisme berbagi pasokan minyak bumi antarnegara anggota, yang bertujuan untuk mengatasi potensi gangguan pasokan energi yang mungkin terjadi.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Pendorong utama percepatan ratifikasi ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan menewaskan warga sipil.
Sebagai respons, Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah. Serangkaian serangan balasan ini telah memperparah ketegangan di kawasan tersebut.
Konflik yang memanas ini berdampak langsung pada jalur pelayaran vital, khususnya Selat Hormuz. Selat ini merupakan rute maritim utama untuk pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Gangguan di Selat Hormuz secara langsung menyebabkan kenaikan harga minyak dan gas di berbagai negara di seluruh dunia.
Laporan mengenai percepatan ratifikasi ini pertama kali diungkap oleh Manila Bulletin pada Kamis (30/4), mengutip sumber dari Sputnik/RIA Novosti.
