Polemik antara ayah dan ibu kandung Nizam Syafei, remaja 12 tahun asal Sukabumi yang meninggal dunia, semakin memanas. Anwar Satibi, sang ayah, mengakui pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap mantan istrinya, Lisna, belasan tahun silam. Namun, pengakuan tersebut dibarengi dengan tudingan balik bahwa Lisna tidak aktif mengurus anak mereka.
Sebelumnya, perhatian publik sempat tertuju pada isu keluarga Nizam, termasuk keberadaan ibu tiri. Namun, sorotan kini bergeser pada konflik terbuka antara Anwar Satibi dan Lisna. Keduanya kerap tampil di berbagai platform untuk menyampaikan versi masing-masing terkait tragedi yang menimpa putra mereka.
Dugaan KDRT dan Pemotongan Rambut Paksa
Melalui kuasa hukumnya, Mira Widyawati, Lisna membeberkan dugaan KDRT yang terjadi saat ia masih menikah dengan Anwar. Mira menyatakan kliennya pernah menerima perlakuan kasar, baik secara verbal maupun fisik. Salah satu ucapan yang disebut pernah dilontarkan Anwar kepada Lisna adalah, “Ya sudah, kamu mati saja sekalian sama anak kamu dalam kandungan, mati saja.”
Selain kekerasan verbal, Lisna juga disebut pernah mengalami kekerasan fisik. Mira mengungkapkan salah satu peristiwa adalah pemotongan rambut secara paksa menggunakan golok. Peristiwa tersebut diklaim menjadi salah satu alasan Lisna akhirnya tak sanggup mempertahankan rumah tangga dan memilih menggugat cerai.
Klarifikasi dan Tudingan Balik Anwar Satibi
Menanggapi berbagai tudingan tersebut, Anwar Satibi memberikan klarifikasi melalui unggahan di akun Facebook bernama Ahli Gigi Pajampangan. Ia membantah sejumlah tuduhan dan meminta publik tidak serta-merta percaya pada narasi yang beredar. Anwar bahkan menyinggung karakter mantan istrinya.
“Mereka tidak paham kalau ibunya anak saya itu mantan istri. Jangan melihat keluguan dia dan wajah polos dia. Kalau dia wanita baik-baik nggak mungkin saya cerai,” tulis Anwar.
Anwar tidak sepenuhnya menampik adanya tindakan KDRT di masa lalu. Namun, ia mengklaim memiliki alasan atas perbuatannya. Menurutnya, insiden tersebut terjadi belasan tahun lalu saat ia terbawa emosi karena uang yang hendak digunakannya dipinjamkan oleh Lisna kepada saudaranya tanpa izin.
“Kejadian KDRT yang saya lakukan belasan tahun silam itu karena dia meminjamkan uang saya ke kakaknya tanpa izin. Padahal saya mau gunakan. Dia jawab uang itu nggak ada dipinjamkan. Jadi saya murka waktu itu,” ungkapnya.
Terkait pemotongan rambut menggunakan golok, Anwar menyatakan tindakan itu dilakukan agar dirinya tidak sampai memukul atau melukai tubuh mantan istrinya. “Kenapa rambutnya yang saya potong? Karena biar dia nggak merasakan sakit, tidak memukuli badan,” jelasnya.
Anwar juga membantah tudingan bahwa dirinya menghalangi komunikasi antara Lisna dan Nizam. Ia justru menyebut bahwa mantan istrinya tidak aktif mengurus anak mereka. “Dia sebetulnya tidak pernah mengurus anak saya. Anak saya pernah juga diurus sama ibu dia, dan itu pun saya yang membiayai kebutuhan anak saya,” terangnya.
Ia menambahkan, ketika Lisna hendak menikah lagi, Nizam diantarkan kembali kepadanya oleh pihak keluarga Lisna. Anwar menegaskan, sebagai ayah kandung, ia tidak mungkin menolak untuk menerima anaknya.
Harapan Pertemuan Terbuka
Di tengah memanasnya polemik, Anwar berharap ada pertemuan langsung antara dirinya, Lisna, dan keluarga besar untuk membicarakan persoalan ini secara terbuka. Bahkan ia mengusulkan agar pertemuan tersebut disiarkan secara langsung agar publik dapat menyaksikan dan menilai secara objektif.
“Mudah-mudahan saya dipertemukan sama ibu kandung anak saya dan keluarganya dan siaran langsung biar publik melihat,” harapnya.
