Gempuran makanan instan dan olahan kini semakin mendominasi meja makan keluarga di Indonesia. Pola konsumsi yang mengedepankan kepraktisan ini memicu kekhawatiran serius terhadap kualitas gizi, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Di Lamongan, Jawa Timur, perubahan pola makan ini terasa nyata di tengah gaya hidup serba cepat. Menu harian banyak diisi dengan gorengan, makanan olahan, hingga minuman berpemanis. Kondisi ini beririsan langsung dengan meningkatnya risiko gizi buruk, stunting, hingga obesitas di kalangan masyarakat.

Peran Disiplin Gizi dari Rumah

Di tengah tren tersebut, Dahlina Rosyida, seorang mantan atlet balap sepeda yang kini aktif sebagai pelari, memilih jalur berbeda. Ia secara ketat menjaga asupan makanannya untuk menopang aktivitas fisiknya yang intens.

“Kalau tidak diimbangi makanan bernutrisi, risiko cedera bisa menghentikan aktivitas olahraga,” ujar perempuan yang akrab disapa Nana ini.

Nana rutin mengonsumsi sayur, telur rebus, dan buah segar. Pola makan disiplin ini juga mencakup pembatasan waktu makan terakhir pada sore hari, sebuah kebiasaan yang ia tularkan kepada anak-anaknya.

Menurut Nana, menjaga kesehatan bukan hanya soal latar belakang sebagai atlet, melainkan lebih kepada kemauan dan kesadaran. “Semua kembali ke kesadaran masing-masing. Pola hidup sehat bisa dimulai dari rumah,” tegasnya.

Edukasi Gizi dan Tanggung Jawab Keluarga

Pandangan serupa disampaikan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur, dr. Andriyanto. Ia menyoroti peran sentral keluarga, terutama ibu, dalam membentuk pola konsumsi yang sehat.

“Edukasi gizi perlu diberikan kepada ibu yang memiliki balita dan anak dalam masa pertumbuhan,” ujarnya.

Andriyanto mengingatkan bahwa masalah kesehatan tidak selalu berasal dari satu jenis makanan tertentu. Gorengan, makanan instan, maupun minuman berpemanis tetap bisa dikonsumsi selama porsinya terjaga. “Masalah muncul ketika konsumsi berlebihan dan terus-menerus,” kata Andriyanto.

Di sisi lain, kebutuhan energi saat beraktivitas membuat sebagian orang tetap mengonsumsi minuman tertentu. Kristiono, pelari trail asal Surabaya, mengaku sesekali minum minuman berkarbonasi saat membutuhkan tambahan kalori.

“Saya tidak rutin. Biasanya saat kondisi tertentu, misalnya cuaca panas atau jeda makan terlalu lama,” jelasnya.

Tantangan Industri dan Preferensi Konsumen

Pergeseran menuju gaya hidup sehat mulai menguat sejak pandemi Covid-19, dengan aktivitas olahraga dan konsumsi makanan sehat menjadi bagian dari rutinitas masyarakat. Namun, perubahan ini belum sepenuhnya diikuti oleh semua lapisan masyarakat dalam hal pola makan.

Industri makanan dan minuman pun menghadapi tekanan untuk beradaptasi. Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, mengakui bahwa produsen tengah menyesuaikan komposisi produk mereka.

“Produsen melakukan reformulasi, seperti mengurangi gula. Prosesnya panjang dan membutuhkan biaya besar,” katanya.

Selain itu, produsen mulai menerapkan pengendalian porsi dan memperbanyak edukasi mengenai komposisi produk kepada konsumen. Produk dengan kandungan gula rendah hingga tanpa gula juga mulai diperluas. “Produksi minuman zero sugar sudah mencapai sekitar 10 sampai 20 persen dari total produksi,” ujar Dhedy.

Meskipun demikian, selera masyarakat masih menjadi tantangan utama. Rasa manis dan gurih tetap mendominasi preferensi konsumsi.

Di tengah perdebatan soal makanan kemasan, data menunjukkan bahwa sumber gula terbesar justru berasal dari gula rumah tangga dan sirup. Minuman kemasan berada di posisi lebih rendah karena komposisinya terukur dan tercantum jelas pada label.

Solusi Berawal dari Meja Makan Keluarga

Menyikapi kompleksitas masalah ini, dr. Andriyanto mengingatkan bahwa solusi tidak cukup berhenti pada regulasi atau upaya industri. Perubahan mendasar harus dimulai dari ruang makan keluarga.

“Komunikasi tentang makanan sehat harus dibangun di rumah. Pendekatan berbasis kebiasaan dan budaya akan lebih mudah diterima,” pungkasnya.